This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MASJID AL-AQSHO KUDUS

KEBANGGAAN KOTA KUDUS.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 April 2012

Kisah Pembangkit Jiwa

Kisah Pembangkit Jiwa Thursday, September 21, 2006 Cerita Anak Sholeh Keledai Pembawa Garam Monday, June 19, 2006 - Sumber : e-smartschool.com Pada suatu hari di musim panas, tampak seekor keledai berjalan di pegunungan. Keledai itu membawa beberapa karung berisi garam dipunggungnya. Karung itu sangat berat, sementara matahari bersinar dengan teriknya. "Aduh panas sekali. Sepertinya aku sudah tidak kuat berjalan lagi," kata keledai. Di depan sana, tampak sebuah sungai. "Ah, ada sungai! Lebih baik aku berhenti sebentar," kata keledai dengan gembira. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalam sungai dan…. Byuur… Keledai itu terpeleset dan tercebur. Ia berusaha untuk berdiri kembali, tetapi tidak berhasil. Lama sekali keledai berusaha untuk berdiri. Anehnya, semakin lama berada di dalam air, ia merasakan beban dipunggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi. "Ya ampun, garamnya habis!" kata tuannya dengan marah. "Oh, maaf… garamnya larut di dalam air ya?" kata keledai. Beberapa hari kemudian, keledai mendapat tugas lagi untuk membawa garam. Seperti biasa, ia harus berjalan melewati pegunungan bersama tuannya. "Tak lama lagi akan ada sungai di depan sana," kata keledai dalam hati. Ketika berjalan menyeberangi sungai, keledai menjatuhkan dirinya dengan sengaja. Byuuur…. Tentu saja garam yang ada dipunggungnya menjadi larut di dalam air. Bebannya menjadi ringan. "Asyik! Jadi ringan!" kata keledai ringan. Namun, mengetahui keledai melakukan hal itu dengan sengaja, tuannya menjadi marah. "Dasar keledai malas!" kata tuannya dengan geram. Keesokan harinya, keledai mendapat tugas membawa kapas. Sekali lagi, ia berjalan bersama tuannya melewati pegunungan. Ketika sampai di sungai, lagi-lagi keledai menjatuhkan diri dengan sengaja. Byuuur…. Namun apa yang terjadi ? Muatannya menjadi berat sekali. Rupanya kapas itu menyerap air dan menjadi seberat batu. Mau tidak mau, keledai harus terus berjalan dengan beban yang ada dipunggungnya. Keledai berjalan sempoyongan di bawah terik matahari sambil membawa beban berat dipunggungnya. Moral : Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Karena tindakan yang salah akan menyebabkan kerugian bagi kita. Sumber : Elexmedia

Serpihan Kertasku

Serpihan Kertasku KUMPULAN ARTIKEL DARI BERBAGAI SUMBER About Me Foto Saya Komarudin View my complete profile Calendar Buku Tamu ShoutMix chat widget Rabu, 18 Maret 2009 Cerita Tiga Anak Sholeh Pada suatu ketika ada tiga orang pemuda yang bepergian. Ditengah perjalanan mereka terpaksa bermalam didalam sebuah gua. Tiba–tiba dengan tidak terduga sebuah batu besar terjun dari atas bukit hingga menutup pintu gua itu sehingga ketiga pemuda tadi terjebak didalamnya. Didorongnya batu besar itu dengan sekuat tenaga tetapi batu tersebut tidak bergerak sama sekali. Berkatalah salah seorang pemuda itu kepada temannya, “Sungguh tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya ini kecuali jika kita tawasul kepada Allah tentang amal sholeh yang pernah kita lakukan. Sehingga mudah–mudahan batu besar ini dapat digeser.” Berkatalah pemuda yang pertama, “Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua. Saya biasa memberi minum susu pada beliau berdua sebelum aku memberinya pada orang lain. Hingga pada suatu ketika agak kejauhan bagiku menggembala ternak. Aku tidak kembali kepada kedua orang tuaku hingga malam hari dan keduanya kudapati telah tertidur. Maka akupun segera memerah susu untuk keduanya. Saya tunggui tidurnya, tetapi beliau nyenyak istirahatnya, sehingga aku segan membangunkannya. Sementara sayapun tidak memberikan minuman susu itu kepada siapapun sebelum kepada beliau berdua. Padahal semalam itu juga anak–anakku sedang menangis minta susu tadi. Ya Allah, jika baktiku kepada kedua orang tuaku itu mendapatka ridloMu maka lapangkanlah keadaan kami ini.“ Maka didorongnya batu besar itu dan bergerak sedikit , hanya saja mereka belum bisa keluar. Berkatalah pemuda yang kedua, “Ya Allah dahulu saya punya pacar yang amat cantik. Saya selalu merayu dan ingin berzina kepadanya, tetapi ia selalu menolak dengan keras. Hingga suatu saat keluarganya jatuh pailit. Aku sanggup menolong dari kepailitan itu, asal ia mau menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Maka ketika saya telah berada diantara dua kakinya (siap berzina ), tiba–tiba ia berkata, “Takutlah kamu kepada Allah dan jangan kau pecahkan selaput daraku ini kecuali dengan halal.” Aku terhenyak bangun dari padanya, dan aku tetap rela membantu dari kepailitannya. Ya, Allah jika perbuatanku itu mendapatkan ridloMu maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini.” Maka didorongnya batu besar itu dan bergerak sedikit, tetapi belum cukup untuk keluar dari pintu gua itu. Maka berkatalah pemuda yang ketiga, “Saya dulu seorang pangusaha yang banyak sekali buruh pegawaiku. Saya selalu tepat membayar upah buruhku. Hingga pada suatu saat ketika saya membayarkan upah buruh, ada seorang buruh yang tidak hadir karena ada kepentingan lain. Ia belum menerima upahnya. Maka upah buruh tadi saya kembangkan hingga bertambah–tambah, berlipat–lipat. Pada suatu ketika datanglah kepadaku si buruh tadi menanyakan akan upahnya yang belum dibayarkan olehku. Aku katakan kepadanya bahwa harta kekayaan yang ada di depannya yang berupa unta, lembu, kambing itu miliknya. Upahmu dulu aku kembangkan hingga menjadi kekayaan itu, maka ambilah semuanya. Ya, Allah jika perbuatanku itu mendapatkan ridloMu maka hindarkanlah kami dari kesempitan ini.” Maka didorongnya batu besar itu dan bergerak, sehingga cukup untuk keluar dari pintu gua itu dan keluarlah ketiganya dengan selamat. Dari itu dapat diambil hikmah betapa besarnya faidah melakukan amal dengan tulus ikhlas berbakti kepada kedua orang tua, mengalahkan besarnya godaan hawa nafsu dan kerakusan terhadap harta (upah buruh). Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Israa', 80 : “Ya Tuhanku , Masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar. Dan berilah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang menolong“

Kaya = ilmunya barokah. Benarkah...?

Kaya = ilmunya barokah. Benarkah...? Diposkan oleh santri salafy menggugat NU Si Edi (nama samaran) adalah seorang santri yang memperoleh predikat Santri Clemer. Dalam catatan pengurus pondok pada masanya, dia selalu istiqomah mengulang pelanggarannya terhadap peraturan2 pesantren. Segala model hukuman telah ditimpakan pada dia namun tidak membuatnya jera. Bahkan ditingkat pengurus pernah pula diadakan rapat koordinasi khusus membahasnya. 10 tahun kemudian si Edi dikaruniai Allah dengan keluasan rejeki, dia kaya raya dan usahanya selalu diberi keberhasilan. Di sisi lain adalah si Ahsan (juga bukan nama sebenarnya) adalah santri yang mempunyai nilai oke di mata para pengurus pada masanya. Tingkahnya selalu mendapat pujian. Prestasinya mantab. 10 tahun kemudian ternyata dia di kasih kesempitan rejeki oleh Allah, usahanya selalu gagal. Dengan 2 kisah diatas, biasanya kebanyakan kita sebagai santri akan berkomentar: "liat si Edi, walaupun di pondok MELER tapi ilmunya barokah, (dia kaya)". Sebaliknya "liat si Ahsan dia dulu anak baik-baik tapi ilmunya tidak manfaat, dia dikasih kesempitan hidup" Masih umum jalan pemikiran santri mengukur barokah ilmu (manfaat ilmu) dengan kondisi hidup seseorang jika sudah boyong dari pesantren. Kalau melihat ada alumni di"kayakan" oleh Allah dianggapnya sebagai keberhasilan menuntut ilmu, jika ada yang mengalami kesulitan hidup dianggapnya sebagai kegagalan menuntut ilmu (madura: kening tola) itu adalah pandangan-pandangan salah kaprah yang sudah berlangsung lama yang perlu di LURUSkan. Bagaimana meluruskannya? berikut adalah beberapa tips usulan saya: 1. Kita harus memahami arti ilmu manfaat / barokah. Ilmu manfaat adalah ilmu yang bisa mendekatkan si empunya kepada Allah yang mempunyai sifat Ilmu. Jelas sekali kedekatan seseorang kepada Tuhannya tidak diukur dengan materi. Bisa saja si Ahsan dalam kisah diatas adalah orang yang sangat dekat kepada Allah, dan si Edi adalah orang yang jauh. Ada juga yang mengartikan ilmu manfaat itu dengan arti ilmu yang selalu berkembang sebab diamalkan. 2. Urusan kaya / miskin materi itu adalah sama-sama merupakan ujian dari Allah. Si miskin Ahsan paham bahwa dirinya sedang diuji oleh Allah, karena dia tahu waktu dulu belajar di pondok bahwa hidup adalah ujian. Sementara si Edi tidak menyadari bahwa kekayaannya adalah ujian, karena memang tidak pernah menerima pelajaran bahwa hidup adalah ujian. dengan begitu siapa yang manfaat ilmunya...? Edi atau Ahsan? 3. Bacalah kisah-kisah para Nabi, khususnya Nabi-Nabi yang miskin tapi dekat dengan Allah. Semoga tiga tips di atas bisa mencabut pikiran salah yang tertanam sekian lama. Wallahu a'lam.

Kaya = ilmunya barokah. Benarkah...?

Kaya = ilmunya barokah. Benarkah...? Diposkan oleh santri salafy menggugat NU Si Edi (nama samaran) adalah seorang santri yang memperoleh predikat Santri Clemer. Dalam catatan pengurus pondok pada masanya, dia selalu istiqomah mengulang pelanggarannya terhadap peraturan2 pesantren. Segala model hukuman telah ditimpakan pada dia namun tidak membuatnya jera. Bahkan ditingkat pengurus pernah pula diadakan rapat koordinasi khusus membahasnya. 10 tahun kemudian si Edi dikaruniai Allah dengan keluasan rejeki, dia kaya raya dan usahanya selalu diberi keberhasilan. Di sisi lain adalah si Ahsan (juga bukan nama sebenarnya) adalah santri yang mempunyai nilai oke di mata para pengurus pada masanya. Tingkahnya selalu mendapat pujian. Prestasinya mantab. 10 tahun kemudian ternyata dia di kasih kesempitan rejeki oleh Allah, usahanya selalu gagal. Dengan 2 kisah diatas, biasanya kebanyakan kita sebagai santri akan berkomentar: "liat si Edi, walaupun di pondok MELER tapi ilmunya barokah, (dia kaya)". Sebaliknya "liat si Ahsan dia dulu anak baik-baik tapi ilmunya tidak manfaat, dia dikasih kesempitan hidup" Masih umum jalan pemikiran santri mengukur barokah ilmu (manfaat ilmu) dengan kondisi hidup seseorang jika sudah boyong dari pesantren. Kalau melihat ada alumni di"kayakan" oleh Allah dianggapnya sebagai keberhasilan menuntut ilmu, jika ada yang mengalami kesulitan hidup dianggapnya sebagai kegagalan menuntut ilmu (madura: kening tola) itu adalah pandangan-pandangan salah kaprah yang sudah berlangsung lama yang perlu di LURUSkan. Bagaimana meluruskannya? berikut adalah beberapa tips usulan saya: 1. Kita harus memahami arti ilmu manfaat / barokah. Ilmu manfaat adalah ilmu yang bisa mendekatkan si empunya kepada Allah yang mempunyai sifat Ilmu. Jelas sekali kedekatan seseorang kepada Tuhannya tidak diukur dengan materi. Bisa saja si Ahsan dalam kisah diatas adalah orang yang sangat dekat kepada Allah, dan si Edi adalah orang yang jauh. Ada juga yang mengartikan ilmu manfaat itu dengan arti ilmu yang selalu berkembang sebab diamalkan. 2. Urusan kaya / miskin materi itu adalah sama-sama merupakan ujian dari Allah. Si miskin Ahsan paham bahwa dirinya sedang diuji oleh Allah, karena dia tahu waktu dulu belajar di pondok bahwa hidup adalah ujian. Sementara si Edi tidak menyadari bahwa kekayaannya adalah ujian, karena memang tidak pernah menerima pelajaran bahwa hidup adalah ujian. dengan begitu siapa yang manfaat ilmunya...? Edi atau Ahsan? 3. Bacalah kisah-kisah para Nabi, khususnya Nabi-Nabi yang miskin tapi dekat dengan Allah. Semoga tiga tips di atas bisa mencabut pikiran salah yang tertanam sekian lama. Wallahu a'lam.

ini bukti barokah pesantren

Oleh : KH. Moh. Hafidhi, S.Sos Pengasuh Yayasan Bustanul Ulum Jember Alumni Al-Amien I 1983-1985 Sebuah peristiwa sering menyisakan kejadian atau kisah unik dan bahkan menakjubkan bagi banyak orang. Dalam sebuah pertemuan di gedung DPRD Jember (kini saya sebagai anggota Dewan Komisi B bidang Pendidikan di Jember), saya pernah merenungi saat hidup di Pondok Pesantren Al-Amien I Prenduan, mengabdi kepada kyai dan keluarga beliau. Termasuk pengabdian yang pernah saya lakukan adalah memelihara ayam milik (alm) Kyai Musyhab Fatawi. Termasuk juga saya jadi teringat apa saja yang diperintahkan keluarga dhalem (keluarga kyai) kepada saya. Hanya dua tahun, 1983-1985, saya hidup di Pondok. Disana saya tidak mengenyam pendidikan formal. Kerja saya hanya diminta memelihara ayam Kyai saja. Suatu hari, Kyai pernah mendatangi saya pada saat saya memberi makan ayam. Beliau tiba-tiba menyampaikan kata-kata filosofis dan sarat makna Sufis, “Di pondok itu jangan hanya mencari ilmu, tapi pandai-pandailah mencari barokah. Karena barokah itu di masyarakat banyak manfaatnya.” Sekarang, baru sadar tentang barokah pesantren yang di maksud Kyai. Di pesantren, barokah biasa dikaitkan dengan ilmu (baca: ilmu barokah) yang dipahami sebagai ilmu yang bermanfaat dan mempunyai nilai lebih. Artinya, meskipun kuantitasnya sedikit tetapi manfaatnya luas bagi ummat. Saya juga teringat pada mahfudhot yang sering dihafal santri Al-Amien I Prenduan kala itu, “Al-Ilmu bila amalin kasy-syajari bila tsamarin (ilmu tanpa diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah)”. Ilmu akan musnah sedikit demi sedikit jika tidak diamalkan. Sedangkan menumpuk ilmu, tanpa mengamalkan, hanya akan menjadi beban. Sebagaimana yang diperumpamakan Allah SWT dalam Al-Qur’an bahwa orang yang mempunyai ilmu tanpa diamalkan seperti keledai yang membawa kitab dipunggungnya, tanpa mendapat manfaat sedikitpun dari kitab tersebut. Dengan kata lain, ilmu bisa dikatakan bermanfaat atau barokah jika berguna bagi diri sendiri dan juga orang lain. Alhamdulillah, ilmu dan pengalaman hidup yang saya dapatkan di Pondok Pesantren Al-Amien I Prenduan, saya tuangkan dalam bentuk pengabdian sebagai pengasuh di Yayasan Pendidikan Islam Bustanul Ulum Pakusari Jember. Yayasan ini adalah lembaga pendidikan untuk anak yatim piatu dan fakir miskin. Lembaga pendidikan ini gratis. Dan saat ini santrinya berjumlah 1800 orang. Saya berharap semoga apa yang saya lakukan sesuai dengan makna berokah yang dimaksud (alm) Kiai Musyhab Fatawi. Disamping itu, semoga lembaga pendidikan yatim piatu ini menjadi amal investasi untuk kehidupan akhirat kelak. Karena saya juga terharu pada perhatian Rasulullah terhadap anak yatim piatu. Beliau sungguh memperhatikan, melindungi dan menjamin kebutuhan hidup mereka, beliau berpesan dan menganjurkan kepada ummatnya dalam setiap keadaan. “aku dan pemelihara anak yatim akan berada di surga kelak”, sambil mengisyaratkan dan menyejajarkan kedua jari dan telunjuknya. Demikianlah sabda baginda Rasul SAW. (HR. Bukhori). Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, “sebaik-baik rumah tangga muslim ialah yang didalamnya ada anak yatim yang dilayani dengan baik”. (HR. Ibnu Majah) Terakhir, saya berharap semoga Pondok Pesantren Al-Amien I Prenduan terus berkembang di bawah kepemimpinan Kiai Muhajiri Musyhab. Dengan tidak meninggalkan identitas asli kepesantrenan.

Ilmu dan Barokah Kyai

Ilmu dan Barokah Kyai Published on February 17, 2012 by MT Entah untuk yang ke berapa kalinya aku berpapasan lagi dengan Kyai Bushiri, yang berpenampilan biasa saja, tak selayaknya ustadz-ustadz bersorban dan berbaju koko. Padahal aku sudah melintasinya tetapi obrolan yang menarik dengannya beberapa waktu lalu, membuatku berbalik langkah untuk menemuinya. Sambil ngedeprok di trotoar, kuserap kebijaksaan darinya. ilustrasi dari Michael Harrison | e-devotion(dot)blogspot(blogspot)com ilustrasi dari Michael Harrison | e-devotion(dot)blogspot(dot)com Kami berdua berbincang tentang dunia pesantren pada masa lalu, di mana peran Kyai sangat penting. Pola didikan kyai masa lalu umumnya sama: selain mengajar ilmu dan hikmah dari kitab, juga menyuntikkan hikmah kehidupan melalui kegiatan nyata yang melibatkan santrinya. Misalnya saja, ada kyai yang sering mengajak santrinya memancing, mencari kayu bakar, memperbaiki kolam yang rusak, mengantar kondangan, dan macam lainnya. Saat Kyai mengajak santrinya untuk urusan yang “sepertinya pribadi dan sepele” itulah, sebenarnya kyai sedang menanamkan kebijaksanaan hidup. Bahkan saat kyai memberikan hukuman, itu merupakan wujud kasih sayangnya terhadap santri yang bersangkutan. Saat dihukum boleh jadi santri tak mendapatkan hikmah. Baru setelah beberapa waktu (tak berbatas) sang santri akan menyadari bahwa hukuman itulah yang membuatnya lebih baik dan terjaga dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Belajar di pesantren bukan hanya menuntut ilmu, tapi juga mengharap barokah (berkah) kyai. Seorang santri akan merasa bahagia, bangga, saat disuruh dan atau diajak jalan bersama Kyainya. Bahkan jeweran kyai diinsyafi sebagai barokah dan wujud kepedulian kyai terhadap perkembangan pribadi santrinya. Barokah kyai pesantren dipercaya lebih penting daripada ilmu yang diterima santri. santri yang hanya mendapatkan ilmu (tanpa barokah) akan menjadikan ilmu atau agama sebagai jubah/simbol untuk menguntungkan dirinya. Bagi santri yang berpolitik, tanpa barokah kyai kerap menjadi politikus busuk yg mudah memakai jargon agama untuk mengelabui rakyat. Santri yang hanya mendapatkan ilmu tanpa barokah, saat menjadi pejabat biasanya akan mudah tergoda dan terjebak untuk terlibat dalam Corruption Network yang menjala-jala sejak ia belum memasuki instansi tersebut. Wajar saja jika ada gosip tentang departemen yang mengatur urusan pendidikan maupun keagamaan, tetapi di dalamnya diduga telah dikuasai jaringan koruptor. Santri yg mendapatkan ilmu dan barokah, dapat melihat melalui mata hatinya, sehingga tak akan mudah mempercayai politikus, pejabat, bahkan presiden yg menjadikan agama sebagai topeng belaka. Tak akan terperdaya oleh mereka yang kerap melakukan agama sebagai taktik dalam negosiasi dan transaksi. Karena itu penting bagi santri untuk mendapatkan ilmu dan barokah kyai. Dua hal itu merupakan pendidikan gaya kyai yang membentuk integritas kepribadian santri. Demikian obrolan santaiku saat ngedeprog di pinggir jalan bersama kyai Bushiri asal Madura, yg kukenal dalam persliweran jalanku dan ia tak pernah mau dipotret. “Banyak kyai, ulama, ustadz, atau pun Da’i yang suka dipotret dan akhirnya hanyut dalam popularitas yang membuatnya pongah. Aku berusaha menjaga diri dari godaan seperti itu.” Tutur Kyai Bushiri.

Hasan dan Kucing Hitam

Hasan dan Kucing Hitam PDF Print E-mail User Rating: / 59 PoorBest Friday, 16 July 2010 08:35 Pada sebuah desa, tinggallah sebuah keluarga, keluarga Pak Rahmat namanya. Pak Rahmat mempunyai tiga orang anak, yaitu Nida, Hasan, dan Husein. Semua putra pak Rahmat sudah bersekolah. Nida kelas 4 SD, Hasan kelas 2 SD, dan Husein kelas 1 SD. Dari ketiga bersaudara tersebut Hasan mempunyai sifat yang cukup berbeda dari dua saudaranya. Ia suka berbuat usil. Ia mempunyai kebiasaan mengganggu hewan peliharaan tetangga. Setiap kali ia lewat atau berjalan-jalan , dan menemui hewan selalu menggertak dan mengusirnya. “Heyya…! Huss…! Pergi kalian! Jagoan mau lewat!” teriakan Hasan membuat hewan-hewan yang didekatnya lari ketakutan. Saat sedang bermain ia juga suka mengganggu hewan-hewan seperti, kucing atau ayam. Semua hewan di sekitar rumahnya takut dengannya. Hasan pernah dijewer mbok Pinah gara-gara ayam mbok Pinah mati karena jatuh kedalam sumur setelah dikejar-kejar Hasan. Beberapa hari kemudian, pak Rahmat mengawasi anaknya yang bermain. Hasan bermain di halaman rumah pak Sholeh bersama teman-temannya yaitu Budi, Dodi, dan Tono. Mereka sedang bermain sepakbola. Suara mereka bising, sehingga menganggu tetangga di sekitar rumah pak Sholeh. Ketika sedang bermain, seekor kucing hitam datang melintas di dekat mereka. Tanpa pikir panjang, Hasan segera mengincarnya. Ia menendang bola dengan sekuat tenaga diarahkan ke kucing hitam tersebut. “Buk!” suara bola sangat keras mengenai kucing hitam tersebut. “Meoong!” kucing hitam menjerit terkena bola tendangan Hasan. Suaranya melengking kesakitan, dan jatuh terpental berguling-guling di tanah. “Ha..ha..ha..!Horee..! ” Hasan tertawa merasa puas dengan yang dilakukannya. Dari jauh pak Rahmat menyaksikan kelakuan anaknya, menggeleng-gelengkan kepala. Akibat ulahnya banyak tanaman yang berada di sekitar rumah pak Sholeh rusak. Bahkan suatu ketika tendangan bolanya mengenai gerobak penjual bakso yang berakibat nampan, beberapa mangkuk pecah berantakan jatuh ke tanah. Hasan dan teman-temannya langsung lari sekencang-kencangnya tanpa memperdulikan teriakan penjual bakso. “Ya Allah, berikan kesabaran padaku, dan berikan hidayah pada anak-anak tersebut. Amin!” gumam penjual bakso dalam hati. Begitulah sifat dan kelakuan Hasan setiap hari. Meskipun kedua orang tuanya selalu menasehati, tidak juga ia jera. Ia selau mengganggu semua hewan yang ia jumpai. Hari itu, hari Jum’at. Seperti biasanya setelah pulang sekolah Hasan bermain bersama teman-temannya. Kebiasaan Hasan menggaggu hewan masih terus berlanjut setiap hari. Hari itu Hasan bermain cukup lama hampir menjelang maghrib ia baru pulang. Sampai di rumah ia langsung mandi kemudian persiapan shalat maghrib. Tidak seperti biasanya, setelah shalat maghrib biasanya ia berdzikir dan berdo’a tapi kali ini Hasan langsung pergi ke kamar. Menjelang Isya’ Husein mencari kakaknya tersebut untuk diajak shalat. Ia menuju kamar kakaknya tersebut. “Kak, ayo shalat!” panggil Husein. “Ya, kakak sudah tidur !” gumam Husein yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan kakaknya yang sudah tidur. “Bu, kak Hasan sudah tidur!” lapor Husein. “Ya sudah, biar nanti ibu yang membangunkan untuk shalat, mungkin ia kecapean main seharian!” jawab ibu. Dalam tidurnya, Hasan bermimpi menjadi seorang pemburu. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang jagoan yang tidak terkalahkan. Semua hewan penghuni hutan dapat ia taklukkan. Saat ia berburu, tanpa sengaja salah satu anak panahnya mengenai seekor ular naga yang sangat besar dan ganas. Ular naga tersebut sangat marah dan menoleh ke arah Hasan. Ular naga membuka mulutnya lebar-lebardan menyemburkan hawa panas. Tiba-tiba tubuh Hasan terasa ringan dan tersedot masuk kedalam mulut ular naga tersebut. Hasan berusaha keras untuk melepaskan diri namun selalu gagal. “Tolong …tolong…!” Hasan berteriak ketakutan. Teriakan Hasan sampai terdengar pak Rahmat. Pak Rahmat bergegas ke kamar Hasan dan membangunkannya. “Hasan…Hasan…bangun!” “Kamu mimpi buruk ya!” Coba sekarang kamu ingat, apa kamu pernah melakukan kesalahan sehingga kamu mimpi buruk. “Hasan tadi juga belum shalat isya kan!” “Ayo shalat dulu, nanti tidur lagi!” ajak ayahnya. Hasan masih duduk termenung dan masih teringat mimpi yang tadi ia alami. Siang itu, ketika keluar kamar, Hasan melihat seekor kucing hitam. Tanpa pikir panjang sifat usilnya langsung keluar. Ia mengambil bola dan menendangnya ke arah kucing tersebut. Kucing terpental dan menabrak guci hingga pecah. Bolanya terus melayang dan mengenai jendela sampai pecah. Hasan ketakutan dan lari keluar rumah. Tanpa ia sengaja, Hasan menginjak seekor kucing hitam yang berada di depan pintu. “Meoong…!” Kucing langsung mencakar dan menggigit kaki Hasan. Hasan terjatuh kaget dan tidak dapat menahan kesimbangan. “Tolong…tolong…!” teriak Hasan. Kaki Hasan luka dan mengucurkan darah. Ibu yang berada di belakang segera mendatanginya. Hasan kemudian dibawa ke rumah sakit. “Ayah …Ibu…, badan Hasan sakit semua!” rintih Hasan. “Hasan bersyukurlah, lukamu tidak terlalu parah. Makanya jangan suka usil lagi. Jangan suka mengganggu hewan dan menakalinya!” Pak Rahmat menasehati putranya. “Ya ayah, maafkan Hasan. Hasan berjanji tidak akan usil lagi dan mengganggu hewan-hewan lagi!” “Alhamdulillah, semoga Allah selalu menyayangi kita semua. Amin.