This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MASJID AL-AQSHO KUDUS

KEBANGGAAN KOTA KUDUS.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 April 2012

Membangun Akhlakul Karimah Al-Qur'an, Tazkiyatun Nufus 21/11/2007 | 11 Dhul-Qadah 1428 H | Hits: 21.337 Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA Kirim Print “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (Al-A’raaf: 199) Ayat ini menurut Az-Zamaksyari dan Ibnu Asyur termasuk kategori “Ajma’u Ayatin fi Makarimil Akhlak”, ayat yang paling komprehensif dan lengkap tentang bangunan akhlak yang mulia, karena bangunan sebuah akhlak yang terpuji tidak lepas dari tiga hal yang disebutkan oleh ayat diatas, yaitu mema’afkan atas tindakan dan prilaku yang tidak terpuji dari orang lain, senantiasa berusaha melakukan dan menyebarkan kebaikan, serta berpaling dari tindakan yang tidak patut. Imam Ar-Razi pula memahami ayat ini sebagai manhaj yang lurus dalam bermu’amalah dengan sesama manusia yang jelas menggambarkan sebuah nilai akhlak yang luhur sebagai cermin akan keluhuran ajaran Islam, terutama di tengah ketidak menentuan bangunan akhlak umat ini. Secara tematis, mayoritas tema surah Al-A’raaf memang berbicara tentang prilaku dan perbuatan tidak bermoral dan jahil orang-orang musyrik, maka menurut Ibnu ‘Asyur, sesungguhnya ayat ini merupakan solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur’an atas perilaku umumnya orang-orang musyrik. Bahkan posisi ayat ini yang berada di akhir surah Al-A’raaf sangat tepat dijadikan sebagai penutup surah dalam pandangan Sayid Quthb dalam tafsir Fi Dzilalil Qur’an karena merupakan arahan dan taujih langsung Allah swt kepada Rasul-Nya Muhammad saw dan orang-orang yang beriman bersama beliau saat mereka berada di Makkah dalam menghadapi kebodohan dan kesesatan orang-orang jahiliyah di Makkah pada periode awal perkembangan Islam. Berdasarkan tematisasi ayat yang berbicara tentang akhlak mema’afkan, maka ayat yang mengandung perintah mema’afkan ternyata ditujukan khusus untuk Rasulullah SAW sebagai teladan dalam sifat ini. Dalam surah Al-Baqarah: 109 misalnya, Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw agar tetap menjunjung tinggi akhlak mema’afkan kepada setiap yang beliau temui dalam perjalanan dakwahnya. Allah swt berfirman, “Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Bahkan dalam surah Ali Imran: 159, Allah menggambarkan rahasia sukses dakwah Rasulullah saw yang dianugerahi nikmat yang teragung dari Allah swt yaitu nikmat senantiasa bersikap lemah lembut, lapang dada dan mema’afkan terhadap perilaku kasar orang lain , “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Secara redaksional, perintah mema’afkan dalam ayat Makarimil Akhlak di atas bersifat umum dalam segala bentuknya. Ibnu ‘Asyur menyimpulkan hal tersebut berdasarkan analisa bahasa pada kata “Al-Afwu” yang merupakan lafadz umum dalam bentuk “ta’riful jinsi” (keumuman dalam jenis dan bentuk mema’afkan). Mema’afkan disini bisa diartikan sebagai sikap berlapang dada, tidak membalas prilaku buruk orang, bahkan mendoakan kebaikan untuk mereka. Namun tetap keumuman Al-Afwu disini tidak mutlak dalam setiap keadaan dan setiap waktu, seperti terhadap orang yang membunuh sesama muslim dengan sengaja tanpa alasan yang benar, atau terhadap orang yang melanggar aturan Allah swt secara terang-terangan berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits yang mengecualikan keumuman tersebut. Demi keutamaan dan keagungan kandungan ayat diatas, Rasulullah saw menjelaskannya sendiri dalam bentuk tafsir nabawi yang tersebut dalam musnad Imam Ahmad dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah saw pernah memberitahukan kepadanya tentang kemuliaan akhlak penghuni dunia. Rasulullah saw berpesan: “Hendaklah kamu menghubungkan tali silaturahim dengan orang yang justru berusaha memutuskannya, memberi kepada orang yang selalu berusaha menghalangi kebaikan itu datang kepadamu, serta bersedia mema’afkan terhadap orang yang mendzalimimu”. Penafsiran Rasulullah saw terhadap ayat diatas sangat jelas korelasinya. Seseorang yang menghubungkan silaturahim kepada orang yang memutuskannya berarti ia telah mema’afkan. Seseorang yang memberi kepada orang yang mengharamkan pemberian berarti ia telah datang kepadanya dengan sesuatu yang ma’ruf. Serta seseorang yang memaafkan kepada orang yang telah berbuat aniaya berarti ia telah berpaling dari orang-orang yang jahil. Bahkan secara aplikatif, perintah ayat ini mampu membendung emosi Umar bin Khattab saat mendengar kritikan pedas Uyainah bin Hishn atas kepemimpinan Umar. Uyainah berkata kepada Umar, “Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya engkau tidak pernah memberi kebaikan kepada kami dan tidak pernah memutuskan perkara kami dengan adil”. Melihat reaksi kemarahan Umar yang hendak memukul Uyainah, Al-Hurr bin Qays yang mendampingi saudaranya Uyainah mengingatkan umar dengan ayat Makarimil Akhlak, “Ingatlah wahai Umar, Allah telah memerintahkan nabi-Nya agar mampu menahan amarah dan mema’afkan orang lain. Sungguh tindakan engkau termasuk prilaku orang-orang jahil”. Kemudian Al-Hurr membacakan ayat ini. Seketika Umar terdiam merenungkan ayat yang disampaikan oleh saudaranya. Dan semenjak peristiwa ini, Umar sangat mudah tersentuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegur tindakan atau prilakunya yang kurang terpuji. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas). Sungguh dalam keseharian kita, di sekeliling kita, tipologi orang-orang jahil, orang-orang yang mengabaikan aturan, norma dan nilai-nilai kebaikan Islam akan sering kita temui. Jika sikap yang kita tunjukkan kepada mereka juga mengabaikan aturan Allah swt, maka bisa jadi kita memang termasuk kelompok orang-orang jahil seperti mereka. Namun kita berharap, mudah-mudahan nilai spritualitas dan moralitas yang telah tertanam selama proses madrasah Ramadhan masih tetap membekas dan mewarnai sikap dan prilaku kehidupan kita, sehingga tampilan akhlak yang mulia senantiasa menyertai ucapan, sikap dan tindakan kita terhadap sesama, untuk kebaikan bersama umat. Allahu A’lam. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/11/315/membangun-akhlakul-karimah/#ixzz1tLjQV8OU

DALIL TENTANG PENTINGNYA AKHLAKUL KARIMAH

KUMPULAN PETIKAN DALIL TENTANG PENTINGNYA AKHLAKUL KARIMAH إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ راوه ابو داود Sesungguhnya akhlaq yang mulia merupakan amalan – amalan ahli surga مَامِنْ شيْءٍ أَثْقَلُ فِى الْمِيْزَانِ مِنْ الخُلُقِ راوه ابو داود عن أبى الدرداء Tidak ada sesuatu yang lebih berat di dalam timbangan amal (di hari kiamat) daripada budi pekerti yang baik إِنَّ مِنْ اَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِساً يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَحْسَنُكُمْ أَخْلاَقًا راوه الترمذى Sesungguhnya kalian yang paling aku(Nabi) senangi dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah kalian yang paling bagus budi pekertinya.

Pesan terakhir di Pesantren krapyak

Pesan terakhir di Pesantren krapyak REP | 30 May 2011 | 13:16 Dibaca: 101 Komentar: 1 1 dari 1 Kompasianer menilai menarik Berikut “memorabilia” sambutan Pak Hilmy, saat didaulat mengisi sambutan pada acara purna siswa dan “wisuda” kelulusan santri kelas III TA 2010/2011 MA Ali Maksum Kemarin siang (29/5/2011), di Krapyak ada acara Purna Siswa, atau perpisahan santri kelas tiga. Oleh Pak Asyhari Abta (Kepala Madrasah), mendadak saya didawuhi memberi sambutan mewakili Pengurus Yayasan. Acara yang dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) DIY, Bapak H. Masykul Hadi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bantul yang juga alumni Krapyak, Bapak H. Abdul Majid, orang tua wali santri kelas tiga, para pengasuh Pondok dan pengurus Yayasan serta guru-guru Madrasah Aliyah Ali Maksum. Dengan sedikit grogi dan tanpa persiapan, saya menyampaikan pesan-pesan kepada para lulusan, yang kira-kira lengkapnya sebagai berikut: Anak-anak semua, Hari ini sampeyan semua sudah dinyatakan lulus kelas tiga. Predikat ini jangan sampai membikin sampeyan terlalu bangga, sebab ada ungkapan “al-‘Ibrah bil-jawhar la bil-madzhar” (yang penting itu inti atau essensi atau substansinya, bukan penampilannya). Orang dinilai tidak berdasar jas atau baju yang dikenakan, tidak berdasar gelar atau status yang disandangnya. Orang dinilai berdasar kapasitas dan kemampuannya. Saya sebenarnya masih miris dan sedih sampeyan belum apa-apa sudah lulus. Saya merasa belum rela melepaskan sampeyan ke hutan belantara dunia peradaban. Saya sebenarnya belum plong. Tapi waktulah yang mengharuskan ini semua. Semoga saja sampeyan semua baik-baik saja. Oleh karena itu, saya mohon kepada orangtua wali santri agar jangan melepas putra-putranya ke luar pondok. Silakan dipondokkan lagi, baik di Krapyak atau di pesantren mana, monggo… Anak-anak, Apa yang sudah sampeyan pelajari di Krapyak ini sebenarnya sudah cukup menjadi muqaddimah atau pengantar sampeyan menghadapi dunia yang lebih luas dan kompleks. Sampeyan sudah dibekali dengan Riyadlus-Shalihin, Tafsir Jalalayn, Bulughul-Maram, Sulam-Tawfiq, Alfiyah, serta pelajaran-pelajaran lain di madrasah yang semua itu dimaksudkan untuk mempersiapkan sampeyan menghadapi peradaban. Orang bilang: “Teachers open the door, you must enter by yourself” (guru-guru sudah membuka pintu, sekarang saatnya sampeyan yang mesti memasukinya sendiri). Oleh karena itu, be confident, percaya dirilah! Jangan ingah-ingih dan takut menghadapi segala sesuatu. Sebab yang seperti kesimpulan al-Imam al-Ghazali: “ilmu itu syarafun lidzatihi”. Jadi karena sampeyan sudah punya kuncinya, yaitu ilmu, maka yakinlah dengan apa yang akan sampeyan hadapi. Jangan mudah menyerah, jangan mudah takut. Ketemu orang yang jenggotnya panjang aja, takut. Yakinlah bahwa apa yang sampeyan miliki sudahlah cukup sebagai bekal hidup. Tapi janganlah sampeyan sombong dan kemaki. Apanya yang mau disombongkan lha wong manusia itu, seperti kata Simbah KH. Ali Maksum rahimahullah adalah wc mlaku. Jadilah, seperti dipesankan oleh para pembicara terdahulu, orang yang beriman, bertaqwa dan berperilaku yang baik, sebab “Innama bu’itstu li utammima makarimal-akhlaq”. Yang berati kewajiban kita sebagai penerus Nabi minimalnya adalah berperilaku yang baik kepada siapa saja. Anak-anak semua, Sampeyan sudah menjadi alumni Krapyak. Nama Krapyak ini memberi cerminan banyak hal. Krapyak sebagaimana dirintis oleh almarhum Simbah KH. Muhammad Munawwir, dimaksudkan sebagai pondok al-Qur`an. Sedang Krapyak yang kemudian dilanjutkan oleh almarhum Simbah KH. Ali Maksum bermaksud memberi tambahan pembekalan santri kepada kemampuan membaca kitab kuning. Pertanyaannya, sudahkan sampeyan mencerminkan diri sebagai “alumni Krapyak” itu? Sudahkan sampeyan memiliki ciri santri mBah Munawwir dan mBah Ali itu syakhsyiyyatan-‘ilmiyyatan-khuluqiyyatan (baik secara kepribadian, keilmuan maupun adab dan perilaku)? Sebab nama senantiasa mencerminkan penamaannya, seperti kata Imam Ibnu Malik: “Ismun yu’ayyinul-musamma mutlaqan”. Kalau nama sekedar nama, tentu tidak ada nilai lebihnya. Oleh karena itu, kalau sampeyan masih merasa berat menyandang nama itu, maka jangan malu mencari kekurangan itu. Anak-anak semua, Sampeyan semua adalah alumni pesantren, lulusan pondok. Maka jadilah sampeyan sebagai orang yang memang berkepribadian santri, yang perilakunya mencerminkan nilai-nilai pesantren. Saya ingin memberi penekanan kepada sampeyan nilai-nilai kepesantrenan yang selayaknya sampeyan sandang: Yang pertama adalah ikhlas. Jadilah orang yang tulus dalam melakukan segala sesuatu. Jangan mudah meminta bayaran. Apapun, Allah pasti tahu dan Allah akan membalas segala yang kita lakukan dengan ikhlas. Allah berfirman: “wa quli-‘imalu fasayarallahu ‘amalakum warasuluhu wal-mu’minun…” Kedua adalah istiqomah, konsisten. Apa yang sudah menjadi tradisi baik di pondok ini agar bisa dilakukan terus dalam kehidupan sampeyan. Apabila sampeyan sudah dibiasakan bangun subuh, maka teruskan kebiasaan itu. Ketiga adalah mandiri. Apa yang sudah biasa dilakukan sendiri di pondok ini agar diteruskan. Jangan manja dan mudah mengeluh. Keempat adalah ukhuwwah, persaudaraan. Ciri yang juga dimiliki pesantren adalah persaudaraan yang kental di antara kita, di antara kawan-kawan sampeyan. Nanti mungkin ada teman yang datang ke rumah sampeyan, sambutlah dia sebagaimana pertemanan yang selama ini berlangsung sekian lama. Kelima adalah khidmah. Jadilah orang yang mau mengabdi kepada siapa saja yang membutuhkan. Jangan gampang minta bayaran. Bagaimanapun masyarakat juga akan tahu terhadap apapun yang kita lakukan. Yang terakhir, dan ini menjadi ciri pertama siapapun yang menjadi Nabi adalah kejujuran, as-shidqu. Hari ini problem masyarakat kita adalah sulitnya mencari orang yang jujur dan bertanggung jawab. Kepribadian kita, sebelum apapun, dinilai oleh orang lain berdasar kejujuran kita menjaga amanat. Anak-anak semua, Apabila sampeyan sudah memiliki itu, maka terakhir jadilah orang yang bermanfaat, sebab “khayrun-nas anfa’uhum lin-nas”. Jadilah, seperti sering dinyatakan oleh mBah Munawwir rahimahullah: “Kun kal-ma`in ihtaja ilayhi kullu syay`in. Faidza lan takun kadzalika, fakun kal-hajar, wa la takun kal-‘aqrab, yakhafu man ra`ahu” (jadilah kamu laksana air, yang dibutuhkan oleh semua makhluq. Kalau tidak bisa, maka jadilah seperti batu, dan jangan kamu menjadi seperti kalajengking, yang orang yang melihatnya saja takut). Terakhir, apapun yang namanya Pondok Krapyak ini sudah menjadi tempat sampeyan hidup dan menuntut ilmu. Maka jadikanlah pondok ini sebagai your second home, rumahmu yang kedua. Kalau sampeyan sudah tua, bahkan mungkin sudah punya anak dua, dan sampeyan sedang ada acara di Jogja, apa seminar atau sedang ngurus proyek apa, janganlah sampeyan menginap di hotel. Pulanglah ke Krapyak. Ya, meskipun seadanya, insya Allah kita semua senang menerima keberadaan sampeyan. Demikian pula yang penting saya sampaikan, jangan lupa agar sampeyan mendoakan kami, sebab itu penanda bahwa sampeyan anak yang baik, seperti kata Kanjeng Nabi: “waladun sholihun yad’u lahu”, dan penanda bahwa sampeyan sayang sama kami. Dan semoga doa itu yang menyambungkan hubungan pertalian kita selama-lamanya. Wallahu waliyyut-tawfiq, wahuwa hasbuna, wa‘alayhi tawakkaltu.

Manajemen Santri

Manajemen Santri A. PENDAHULUAN Pesantren atau Pondok Pesantren (biasanya juga disebut pondok saja) adalah sekolah Islam berasrama (Islamic boarding school). Para pelajar pesantren (disebut sebagai santri) belajar pada sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren. Santri sebagai bagian dari komponen utama pesantren tentunya memegang peranan penting dalam keberlangsungan pendidikan pesantren. Mengingat varian latar belakang dan heteroginitas santri, dari segi kultur, ekonomi-sosial dan pendidikan, serta membaurnya pengasramaan santri tanpa membedakan usia, maka diperlukan sistem pengorganisasian tersendiri khusus untuk santri. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut Lurah Pondok. Pendidikan di dalam pesantren bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa bahasa Arab. Sebagai institusi sosial, pesantren telah memainkan peranan yang penting dalam beberapa negara, khususnya beberapa negara yang banyak pemeluk agama Islam di dalamnya. Pesantren menekankan nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri. Para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka, agar dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan. B. PEMBAHASAN 1. Perencanaan kebutuhan santri Perencanaan dapat didefinisikan sebagai proses kegiatan yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Perencanaan kebutuhan santri merupakan tugas yang harus dilakukan oleh pengurus pondok beserta dengan anggota-anggotanya, dalam hal ini biasa disebut dengan kesantrian. Adapun hal-hal yang harus dilakukan diantaranya adalah merencanakan kegiatan santri, proses penerimaan santri, pengaturan asrama santri, pengaturan makan santri, pembinaan santri, evaluasi santri. Dalam hal ini, berdasarkan pengetahuan penulis di pondok pesantren sudah ada perencanaan kebutuhan santri, karena ini adalah suatu hal yang penting dalam pendidikan pesantren. 2. Proses Administrasi Penerimaan Santri Penerimaan santri baru dalam tahun pertama dan santri pindahan harus teradministrasi secara baik. Untuk santri baru misalnya harus mengisi formulir yang berisi: nama, alamat, pendidikan sebelumnya, orang tua, pekerjaan orang tua, dan seterusnya. Sementara untuk santri pindahan selain harus mengisi formulir penerimaan santri baru, ia harus menyertakan surat pindah dari pesantren sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah santri bersangkutan pindah karena bermasalah atau tidak. Setelah mengisi formulir yang disediakan maka di pesantren salaf kebnayakan santri langsung bisa masuk dan mengikuti kegiatan pondok, namun ini berbeda dengan pondok kholafi (modern) santri harus mengikuti tes masuk terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan untuk mengatahui kemampuan santri ada juga yang bertujuan untuk menentukan jenjang pendidikan yang akan ditempuh santri tersebut. Satu hal lagi yang perlu dimengerti dalam proses administrasi penerimaan santri, yaitu regestrasi atau daftar ulang dalam setiap tahunnya dan akhir jenjang kelulusan. Karena umumnya santri melanjutkan jenjang pendidikan di lembaga pendidikan yang sama dan terdapat di lingkungan pesantren semula.[1] 3. Kebijakan Administrasi Santri Setiap pesantren harus mempunyai kebijaksanaan umum penerimaan santri, aturan prilaku dan disiplin, standart moral dan pendidikan yang diharapkan santri, serta peraturan mengenai masalah siswa termasuk uang syahriyah (SPP). Hal-hal tersebut harus disosialisasikan secara tepat di antara santri, pengurus, dan orang tua santri. Catatan tentang santri dan data administrasi santri lainnya harus diketahui sedemikian rupa sehingga memberikan dasar yang baik untuk mengambil keputusan dan perencanaan program pesantren. 4. Catatan Keaktifan Santri dan Keluar Bermasalah Setiap pesantren hendaknya memiliki buku khusus tentang catatan keaktifan santri dalam mengikuti kegiatan pesantren. Yang bertugas memegang buku catatn ini bisa ditentukan secara fleksibel. Bagi pesantren yang santrinya masih puluhan dapat langsung ditangani pengurus pesantren. Untuk pesantren yang santrinya mencapai ratusan atau bahkan ribuan dapat ditangani pengurus komplek atau pengurus kamar. Hal ini dimaksudkan untuk memantau perkembangan setiap santri, termasuk prilaku mereka yang bermasalah. Khusus menyangkut santri yang nakal atau bermasalah, catatan ini sangat bermanfaat untuk memantau perkembangan mereka dari waktu ke waktu. Selama ini, tidak adanya catatan aktivitas santri yang tergolong nakal atau bermasalah cukup membuat repot pihak-pihak pesantren. Biasanya hal ini berdampak pada pengeluaran santri secara terhormat dari pesantren, sementara ia adalah santri yang bermasalah. Cara ini jelas kurang tepat, bukankah pesantren berfungsi untuk mencetak generasi yang berakhlak mulia? Terkecuali jika dengan adanya catatan yang berfungsi untuk memantau perkembangan santri tersebut nyatanya tidak berhasil, terpaksa pesantren harus membuat surat keterangan bahwa pihak pesantren tidak mampu lagi membimbing santri tersebut dan yang bersangkutan dinyatakan keluar bermasalah. Fungsi surat ini adalah sebagai pertimbangan orang tua dan pesantren lain yang akan dituju santri bermasalah tersebut sebagai tempat pindahan.[2] 5. Pola Pembinaan Santri Selain melalui kegiatan belajar mengajar, santri juga dibina melalui berbagai kegiatan ekstra kulikuler. Kegiatan itu antara lain: organisasi, menejemen, ekonomi, ataupun masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari santri setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke masyarakat. Terdapat 4 pola pembinaan antara lain: a. Membina santri dan membimbing santri yang mempunyai problem agar mereka bisa mengatasi persoalannya. b. Memberikan tugas-tugas yang dapat mendorong santri memiliki semngat. Militasi, kreatifitas, loyalitas, dan jiwa dedikasi yang tinggi. c. Meningkatkan ubudiyah para santri melalui penyelenggaraan shalat tahajud. Puasa sunnah, pembinaan membaca Al-Quran, dll. d. Pengarahan dan pembinaan kehidupan para santri di rayon-rayon. Untuk memudahkan pembinaan para santri dikelompokkan menurut asal daerahnya masing-masing.yang istilahnya disebut dengan rayon. Untuk membina santri dibentuklah organisasi pelajar, organisasi tersebut semacam OSIS di sekolah umum. Organisasi ini dijadikan wahana pelatihan kepemimpinan dan pengembangan kreatifitas para santri. Periode kepengurusan organisasi ini bisa juga satu tahun ajaran. Kegiatan organisasi ini hampir mencakup segala aspek kegiatan pondok. Seperti kegiatan usaha, pengajaran, perpustakaan, keuangan, maupun hal-hal yang berkaitan dengan masalah konsumsi dan penerimaan tamu. Disamping itu dalam membina persaudaraan antar alumni khususnya dan membina umat pada umumnya.[3] 6. Kegiatan Santri Kegiatan santri di dalam asrama biasanya dikoordinasi dan ditangani oleh pengasuh santri, sebagai perpanjangan tangan pengasuh Pondok(Kyai) dalam membina dan mendidik santri. Kegiatan santri di asrama ini biasanya melalui organisasi santri dan gerakan pramuka. Badan pengasuhan santri di pondok-Pondok Pesantren yang berkategori Salafiyah biasanya ditangani oleh organisasi santri dan kepala asrama (lurah pondok). Organisasi santri ini juga membawahi beberapa bagian, salah satunya bagian keamanan dan organisasi asrama. Kagiatan santri ini biasanya dibagi menjadi 4 bagian, yaitu 1) kegiatan harian, meliputi semua kegiatan santri yang rutin dilakukan setiap hari. 2) Kegiatan Mingguan, yaitu kegiatan yang tidak dilakukan setiap hari, biasanya kegiatan ini dilakukan satu kali dalam seminggu, atau dua kali, atau tiga kali. Misalnya: Latihan pidato, Latihan Pramuka, Bahsul Masail. 3) Kegiatan Bulanan, kagiatan yang dilakukan biasanya satu bulan satu kali saja, ada juga yang dua kali. Misalnya: tambihul ‘am, kerja bakti dengan masyarakat. 4) Kegiatan Tahunan, kegiatan yang biasanya dilakukan satu tahun Cuma satu kali atau ada juga yang dua kali. Misalnya: Harlah, Haul, Upacara 17 Agustus. 7. Pengaturan Asrama Santri Penyelenggaraan asrama untuk santri di Pondok Pesantren salafiyah berbeda dengan penyelenggaraan asrama di Pesantren jenis kholafiyah, apa lagi asrama bagi pelajar dan mahasiswa. Berdirinya asrama untuk para santri yang lazim disebut dengan Pondok Pesantren biasanya bermula dari adanya seorang kyai yang alim yang relatif menguasai ilmu-ilmu agama islam yang menetap di suatu tempat (bermukim). Kemudian datanglah santri-santri yang ingin belajar kepadanya dan turut pula bermukim ditempat tersebut. Karena banyaknya santri yang datang maka mereka pun berupaya mendirikan Pondok di sekitar rumah kyai atau santri. Pengelolaan asrama di Pesantren biasanya dipimpin oleh seorang ketua yang lazim disebut dengan kesantrian yang dilengkapi dengan dengan susunan kepengurusan dan dibantu seksi-seksi sesuai kebutuhan. adapun dalam menentukan pembagian asrama/ kamar santri ini bisa di kelompokkan berdasarkan asal wilayah dan daerahnya, atau juga berdasarkan jenjang pendidikan yang ditempuh. Seorang ketua asrama biasanya dari santri senior yang dipilih secara demokratis oleh perwakilan-perwakilan dari tiap-tiap kamar asrama. Calon-calon ketua yang akan dipilih adalah mereka yang telah mendapat restu dari kyainya. Atau seorang ketua asrama bisa ditunjuk langsung oleh kyainya, sedang para pembantunya diserahkan kepada ketua untuk memilih. Masa jabatan pengurus tergantung aturan yang ditetapkan Pesantren masing-masing. 8. Pengaturan Makan Santri Sistem makan di PondokPesantren salafiyah umumnya para santri menanak nasi sendiri secara berkelompok masing-masing kamar, sedang untuk lauk pauknya bisa membeli di warung-warung milik masyarakat di sekitar pondok. Bagi mereka yang malas memasak bisa makan sepenuhnya di warung, sehingga dengan system makan yang demikian secara langsung dapat menjalin hubungan emosional antara santri dengan masyarakat sekitar PondokPesantren dan masyarakat sendiri merasa diuntungkan dengan adanya Pondok Pesantren. Manfaatnya di sisi lain para santri terbiasa dengan pola hidup sederhana dan mandiri, dengan jatah bekal yang diberikan orang tua dituntut harus mampu mengatur dalam pengeluarannya. Namun hal ini juga mempunyai kelemahan salah satunya adalah biasanya dengan menanak nasi sendiri para santri tidak bias mengatur waktu, seharusnya dia belajar tapi menanak nasi karena kelaparan. Hal ini berbeda dengan Pesantren jenis Kholafiyah (Modern). Di Pesantren jenis ini para santri dikenakan berbagai biaya termasuk uang makan tiap bulannya, mereka jelas harus makan di asrama dalam satu koordinasi, bahkan hampir semua jenis kebutuhan santri dari makan, alat-alat kebutuhan belajar hingga pakaian telah tersedia, mereka harus membeli semua kebutuhan di asrama. Sebenarnya pengkoordinasian secara penuh dalam segala aspek kebutuhan santri di asrama, selain yang mengarah dan relevan dengan pendidikan akan berdampak negatif, akan terganggunya kreatifitas, jiwa demokrasi dan hubungan sosial kemasyarakatan bagi para santri yang merupakan bagian dari ruh Pondok Pesantren. 9. Administrasi Kelulusan Santri Administrasi kelulusan santri sangat berguna untuk mendeteksi kelulusan dan alumni pesantren. Dalam hal ini pembuatannya disesuaikan dengan tipe-tipe pesantren: a) untuk tipe pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal dengan kurikulum nasional, maka pencatatannya disesuaikan dengan tahun kelulusan madrasah atau sekolah. b) Untuk tipe pesantren yang menyelenggarakan pendidikan klasikal dengan kurikulum lokal, pencatatannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan pesantren yang berlaku. c) Untuk tipe pesantren yang menyelenggarakan program paket A,B, dan C serta yang masih menyelenggarakan sisitem pengajian kolosal, pencatatan kelulusannya disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan santri.[4] 10. Evaluasi Santri Dalam setiap pondok pesantren hendaknya ada evaluasi terhadap santrinya, hal ini bisa dilakukan kapan saja, baik itu setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, atupun juga setiap tahun. Adapun bentuk evaluasinya bermacam-macam, bisa dengan ujian baik itu lisan atau perbuatan atau juga bisa dilakukan dengan pengamatan tingkah laku santri dalam kesehariannya. Hal ini mempunyai tujuan diantaranya adalah a. Untuk mengatahui kemampuan santri dalam menyerap ilmu b. Untuk menentukan prestasi santri c. Untuk mengetahui perubahan paradikma berfikir dan tingkah laku santri dalam keseharian d. Untuk mengetahui kekurangan proses pembelajaran dalam pondok pesantren. C. KESIMPULAN Demikianlah sedikit uraian tentang manajemen santri. Tentunya tulisan ini masih sangat jauh untuk mengungkap secara detail dan sempurna tentang manajemen santri. Untuk itu penulis yakin makalah ini masih membutuhkan banyak koreksi dan masukan. Sebagai penutup penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca. *Disusun Oleh: Misbahus Surur (Mahasiswa STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang). Daftar Pustaka Departemen Agama. 2007. Direktori pesantren. Jilid 2 Fatah, Rohadi Abdul, dkk. 2005. Rekonstruksi Pesantren Masa Depan. Jakarta: PT. Listafaka Putra. Hlm. 118 Haedari, Amin, Ishoma El-Saha. 2006. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jakarta: Diva Pustaka. Masyhud, M Sulton. Moh. Khusnurdilo. 2003. Manajemen Pondok Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka. [1] Amin Haedari, Ishoma El-Saha. 2006. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jakarta: Diva Pustaka. Hlm. 45 [2] Amin Haedari, Ishoma El-Saha. 2006. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jakarta: Diva Pustaka. Hlm. 48 [3] Rohadi Abdul Fatah, dkk. 2005. Rekonstruksi Pesantren Masa Depan. Jakarta: PT. Listafaka Putra. Hlm. 118 [4] Amin Haedari, Ishoma El-Saha. 2006. Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jaka

SANTRI dalam sorotan

SANTRI dalam sorotan Ach. Hidayatul Arifin Hasan Tidak asing lagi bagi kita, bahwa santri adalah sosok pelajar agama yang senantiasa tekun melakukan perintah Alloh dan menjauhi larangannya. Santri identik dengan pelajar sarungan dan tidak pernah lepas dari kopiah putihnya, dan tasbih selalu ada di tangannya. Di mata masyarakat santri dianggap orang yang putih dan bersih dari dosa, sehingga tidak heran kalau masyarakat dulu jika kiyai tidak ada maka santrilah yang bisa menggantikan posisinya. . Tidak jarang di kalangan masyarakat tradisional ketika salah satu keluarganya sakit maka mereka pergi ke salah satu santri terdekat untuk meminta air barokah untuk kesembuhan keluarganya tadi. mau mengadakan haul atas selamettan maka mesti mereka mengundang santri untuk mendoakannya, hal itu karena mereka menganggap bahwa santri bisa segala-galanya Tapi apakah hal itu masih berlaku pada masa sekarang ? Benarkah santri saat ini tetap seperti diatas ? sebuah pertanyaan besar yang menjadi tantangan tersendiri bagi santri itu sendiri. Disini penulis akan melihat dan menelaah eksisitensi santri saat ini dari beberapa sudur pandang. 1. Tujuan masyarakat. pada masyarakat saat ini (masyrakat modern) jauh berbeda sekali dengan masyarakat saat dulu (masyakat klasik/tradisional), kalau pada saat dulu orang tua memasukkan anaknya ke dalam pondok pesantren murni untuk belajar agama (disamping khidmat pada kiyai) dan tidak ada batas waktu yang tidak ditentukan. sehingga santri ada di pondok pesantren hingga ada yang puluhan tahun baru berhenti (boyong). Itu pun kalau sudah mau nikah dan mendapat restu dari kiyai. Berbeda dengan orientasi orang tua saat ini, mereka memasukkan anaknya ke dalam pondok pesantren dengan ada batas waktu tertentu, seperti setelah mendapatkan ijazah sekolah formal. Jadi orang tua sudah tidak berorientasi lagi pada ilmu tapi pada ijazah formal itu sendiri.Akibatnya anak yang keluar dari pondok pesantren masih tidak jelas disiplin keilmuannya. sehingga ketika mereka terjun di tengah-tengan masyarakat merasa minder, karena merasa tidak mampu. 2. Pondok pesantren Pondok pesantren saat ini rata-rata sudah melaksanakan pendidikan formal, mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah , aliyah dan bahkan perguruan Tinggi. Hal ini memang sebuah tuntutan pada pesantren dari masyarakat modern saat ini. Sehingga kalau kita lihat Pondok Pesantren yang tetap pada kesalafannya (maaf bukan berarti penulis menganggap yang ada formalnya sudah tidak salaf lagi) tidak mendirikan pendidikan formal sedikit demi sedikit sudah mulai ditinggal oleh masyarakat. Akan tetapi Kiyai dangan semua stekholdernya harus bisa mensiasati situasi saat itu. Karena walau bagaimanapun pendidikan keagamaan harus menjadi prioritas pesantren. Memang benar anggapan sebagian orang bahwa santri setelah keluar dari pesantren tidak semuanya menjadi kiyai. Itu benar karena jabatan profesi atau pekerjaan apapun itu sudah ada ketentuan dai-Nya, akan tetapi pangkat apapun yang akan mereka sandang tetap mempertahankan nilai-nilai santri itu sendiri.Bagaimana mereka bisa menjadi petani yang santri, Pegawai Negeri yang santri, hakim yang santri dan lain sebagainya. 3. Alokasi Waktu Seperti kita ketahui bersama bahwa alokasi waktu belajar santri antara pendidikan formal dan non formal, lebih banyak untuk pendidikan formal. Santri mulai jam 06.30 WIB sudah harus siap-siap untuk masuk sekolah formal, baik yang tingkat ibtidaiyah, Tsanawiyah atau pun yang aliyah, dan baru keluar dari sekolah setelah jam 12.00. jadi sekita 06 jam stengah dihabiskan untuk pendidikan formal. Sementara untuk non formal hanya mulai jam 15.30 WIB sampai 16.45 WIB. waktu yang relatif sedikit. memang selain sekolah di non formal seperti diatas masih ada tambahan belajar seperti ngaji kepada kiyai, munadloroh, muroja'ah dan lain lain, akan tetapi keefektifannya masih dipertanyakan. 4. Minat belajar santri Kitab kuning kalau dulu menjadi target santri dalam sebuah pondok pesantren. sehingga santri dianggap berhasil kalau sudah mumpuni dalam membaca dan memahami kitab kuning. santri harus bersabar bertahun-tahun berada di pondok pesantren kalau masih belum merasa bisa membaca kitab kuning. untuk saat ini hal itu jarang sekali kita temukan, bahkan bisa dianggap minim sekali. Entah kenapa? barang kali hal itu akibat dari tujuan diatas atau memang keadaan sudah berubah. memang kita akui bahwa jarang sekali sekarang kalau ada santri keluar dari pondok pesantren ditanyakan sudah bisa baca kitab kuning apa enggak? tapi pertanyaan yang muncul di masyarakat yaitu " Udah punya Ijazah apa' ? Sudah sarjana ? dan lain lain.

Jumat, 27 April 2012

Para penghafal Al-Quran dari Kalangan Sahabat

Para penghafal Al-Quran dari Kalangan Sahabat Posted on December 16, 2011 by Sugeng Prabowo — 1 Comment ↓ Banyak terdapat hadits yang berbicara tentang keutamaan orang yang membaca Al-Quran dan menghafalnya. Seorang penghafal dinamakan: al qari, sementara kalangan penghafal dinamakan: al qurra. Dan kadang-kadang menghafal diungkapkan dengan kata “al jam`u”. Al Bukhari meriwayatkan dari Qatadah: ia berkata: aku bertanya kepada Anas bin Malik: siapa yang menghafal Al Quran pada masa Rasulullah Saw, ia menjawab: “empat orang, seluruhnya dari kalangan Anshar, yaitu: Mu`adz, Ubay bin Ka`b, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid (salah satu paman Anas)”. Dalam riwayat yang lain, dari Anas ia berkata: Saat Rasulullah SAW wafat, hanya ada empat orang yang hafal Al Quran: Abu Darda, Mu`adz bin Jabal, Zaid bin Tsatbit dan Abu Zaid [1]. Riwayat ini bertentangan dengan riwayat lainya dari dua segi: pertama: menggunakan redaksional hashr (pembatasan) pada empat orang. Dan kedua: menyebut Abu Dard sebagai ganti Ubay bin Ka`b!. Beberapa imam menolak pembatasan sahabat yang hafal hanya empat orang. Dan mereka menakwilkan: bahwa perkataan itu seperti itu adalah dalam batas sepengetahuannya. Karena para penghafal lebih banyak dari itu bilangannya, seperti telah diketahui dengan yakin. Al Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Amru ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Quran dari empat orang: dari Abdullah bin Mas`ud, Salim (maula Abi Huzaifah), Mu`adz, dan Ubay bin Ka`b.” Dua yang pertama adalah dari kalangan muhajirin. Hadits yang mengakui keutamaan empat orang dari kalangan Anshar itu tidak menafikan keberadaan yang lainnya yang hafal Al Quran pada saat itu. Banyak sahabat yang menghafal Al Quran seperti hafalan empat orang itu, atau lebih bagus. Dalam riwayat yang sahih: dalam perang Bi`ru Ma`unah yang terbunuh dalam kejadian itu dari kalangan sahabat adalah mereka yang dikenal dengan Al Qurra (para penghafal Al Quran) dan bilangan mereka adalah: tujuh puluh orang. Al Qurthubi memberikan komentar atas perkataan Anas tadi: pada saat perang Yamamah (Perang melawan gerakan murtad) ada tujuh puluh qurra yang syahid, dan pada masa Nabi Saw di Bi`ru Ma`unah sejumlah yang sama juga mendapatkan mati syahid. Anas menyebutkan hanya empat orang itu adalah karena ia amat dekat dengan keempatnya, atau pada saat itu yang ia ingat adalah empat orang itu. Sementa Al-Hafzih Ibnu Hajar menjelaskan, bahwa yang dimaksud oleh Anas itu adalah dari kalangan Khazraj, tidak termasuk suku Aus. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Jarir darinya ia berkata: Dua suku Aus dan Khazraj berbangga-bangga, Aus berkata: Di antara kami ada yang membuat Arsy bergetar, yaitu Sa`d bin Mu`adz, ada yang persaksiannya dihitung dua persaksian laki-laki, yaitu Khuzaimah bin Tsabit, dan yang dimandikan oleh Malaikat, yaitu Hanthalah bin Abi Amir, dan orang yang dijaga oleh sekawanan lebah, yaitu Ashim bin Abi Tsabit. Sementara suku Khajraz berkata: dari kami ada empat orang yang menghafal Al Quran dengan baik, tidak seperti orang lain……dan ia menyebutkan namanya. [2] Al-Hafizh As-Suyuthi menyebutkan wanita yang menghafal Al Quran, yang menurutnya tidak ada orang lain yang menyebutnya, yaitu Ummu Waraqah binti Abdillah bin Al Harits. Dan Rasulullah SAW pernah menziarahinya, dan menamakannya dengan syahidah, Nabi Muhammad Saw memerintahkannya untuk mengimami keluarganya dalam shalat. Pada masa kekhalifahan Umar wanita itu terbunuh oleh hambanya. Umar berkomentar: Benarlah Rasulullah SAW, beliau pernah bersabda: “Mari kita berangkat menziarahi wanita syahidah“!. Ibnu Hajar berkata: yang tampak dari banyak hadits: bahwa Abu Bakar telah menghafal Al-Quran pada masa Rasulullah SAW. Dalam hadits sahih diriwayatkan ia membangun masjid di depan rumahnya, dan membaca Al Quran di sana, dan ia ditandu saat sakit menimpanya. Ia berkata: ini tidak diragukan lagi, karena kesungguhan Abu Bakar untuk menerima Al-Quran langsung dari Nabi Saw, ditambah keseriusan hatinya untuk menerima Al Quran. Keduanya berada bersama di Mekkah, dan pergaulan keduanya amat lengket, sehingga Aisyah r.a. berkata: adalah Rasulullah SAW mendatangi mereka setiap pagi dan petang. Dalam hadits sahih Rasulullah SAW bersabda: “Yang menjadi imam suatu kaum adalah orang yang paling pandai tentang Kitab Allah “[3]. Dan Rasulullah SAW mengedepankan Abu Bakar r.a. untuk menjadi imam shalat kalangan muhajirin dan Anshar. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling menguasai dan menghafal Al Quran dibandingkan yang lain. As Suyuthi berkata: Pendapat ini telah dikemukakan oleh Ibnu Katsir sebelumnya[4]. Ia berkata: Ibnu Abi Daud meriwayatkan dengan sanad hasan dari Muhammad bin Ka`b al Qurazhi ia berkata: pada masa Rasulullah SAW ada lima orang Anshar yang menghafal Al Quran: yaitu Mu`adz bin Jabal, Ubadah bin Shamit, Ubay bin Ka`b, Abu Darda dan Abu Ayyub al Anshari. Di sini ia menambahkan bilangan yang telah disebut oleh Anas, yaitu: Ubadah dan Abu Ayyub. Abu Ubaid menyebutkan dalam kitab “al Qiraat” para al Qurra dari kalangan sahabat Rasulullah SAW. Dari kalangan Muhajirin adalah: Khalifah yang empat, Thalhah, Sa`d, Ibnu Mas`ud, Huzaifah, Salim, Abu Hurairah, Abdullah bin Saib, Abadilah, Aisyah, Hafshah dan Ummu Salmah. Sedangkan dari Anshar adalah: Ubadah bin Shamit, Mu`adz yang mempunyai nama panggilan Abu Halimah, Majma` bin Jariah, Fadhalah bin Ubaid, dan Muslimmah bin Mukhallad. Ia mengatakan bahwa sebagian dari mereka telah menyempurnakan hafalannya setelah Rasulullah SAW wafat. As Suyuthi berkata: Ibnu Abu Daud memasukkan juga: Tamim Ad Dari dan Uqbah bin `Amir. Ia berkata: Di antara orang yang menghafal juga adalah: Abu Musa al Asy`ari, seperti disebut oleh abu Amru ad Dani [5]. Tentunya pada masa sahabat, jumlah penghafal Al Quran tidak sebanyak pada masa kita sekarang ini, karena mereka mempelajari Al Quran; ilmu dan amalnya sekaligus. Oleh karena itu Umar berkata: Jika seseorang telah mempelajari surah Al Baqarah dan Ali Imran maka ia telah tampak terhormat di mata kami! Artinya ia menjadi orang yang mempunyai kehormatan dan kedudukan di mata kami. Saat Umar mengkhatamkan surah Al Baqarah, ia menyembelih unta sebagai ucapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat itu. Dan kami sendiri, saat masih kecil, jika telah menghatamkan surah Al Baqarah kami membuat acara, dan kami namakan itu sebagai: Al Khatmaah ash Shughra (khataman kecil). Sedangkan Al Khatmah al Kubra (khataman besar) adalah dengan menyempurnakan menghafal Al Quran seluruhnya. Ini tidak aneh, karena Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah SAW: “Jangan jadikan rumah-rumah kalian menjadi kuburan, karena rumah yang tidak dibacakan surah Al Baqarah di dalamnya, tidak dimasuki oleh syaitan “[6]. Dari Abi Umamah al Bahili: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah surah Al Baqarah, karena membacanya membawa berkah, dan meninggalkannya adalah kerugian, dan orang yang membacanya tidak dapat disihir (teluh atau santet)” [7]. Artinya: para penyihir, tidak dapat mencapai sasarannya. Ibnu Mas`ud berkata: “Al Quran ini adalah hidangan Allah SWT, maka barangsiapa yang dapat mempelajari sesuatu dari Al Quran hendaknya ia mempelajarinya. Karena rumah yang paling kosong dari kebaikan adalah rumah yang di dalamnya tidak ada sedikitpun kitab Allah SWT. Rumah yang tidak ada sesuatupun di dalamnya dari kitab Allah, adalah seperti rumah kosong yang tidak berpenghuni. Dan syaitan akan keluar dari rumah yang di dalamnya dibaca surah Al Baqarah [8]. Ibnu Masu`d berkata pula: “ Segala sesuatu mempunyai puncak, dan puncak Al-Quran adalah: Surah al Baqarah”[9].

Rabu, 25 April 2012

PEMBEKALAN

BAB I KEUTAMAAN MEMBACA AL QURAN Para fuqoha telah bersepakat bahwa membaca Al Qur’an lebih utama daripada dzikir-dzikir maupun wirid-wirid lain yang dikhususkan pada suatu masa atau tempat tertentu, sebagaimana ditunjukkan oleh al qur’an maupun sunnah. Diantaranya firman Allah swt : إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ . سورة فاطر أية 29-30 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Surat Fathir ayat 29 –30 ) إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا Artinya : “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al Isra : 9) وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا Artinya : “Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra : 82) لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ Artinya : “Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al Hasyr : 21) Adapun diantara dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah saw : Sabda Rasulullaah SAW : 1 عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خير كم من تعلم القرآن وعلمه رواه البخاري. Dari Utsman bin Affan (yang semoga Allaah meridhoinya) berkata: Telah bersabda Rasulullaah SAW: “Sebaik-baik (manusia di antara) kalian adalah ia yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya “ HR Bukhary عن عائشة رضى الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الذي يقرأ القرآن وهو ماهر به مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن وهو يتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران (رواه البخاري ومسلم Dari Ummul Mukminin Aisyah semoga Allaah meridhoinya, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullaah SAW: “Orang yang membaca Al Qur’an dengan mahir ia bersama malaikat yang mulia sedang orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata karena berat atau susah, maka ia mendapat dua pahala.” Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim. عن أبي موسى الأشعري رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن مثل التمرة لا ريح لها وطعمها طيب حلو ، ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر ، ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة ليس لها ريح وطعمها مر رواه البخاري ومسل Dari Abu Musa Al Asy’ari semoga Allaah meridhoinya berkata : telah bersabda Rasulullaah SAW: “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al Qur’an seperti Ar Rojah baunya harum rasanya lezat, dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an seperti Tamroh tidak ada baunya tetapi rasanya manis. Sedang perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an separti Rihanah, baunya harum tetapi rasanya pahit, sedang orang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an seperti Handholah, tidak ada baunya dan pahit rasanya” HR Bukhary dan Muslim عن ابن عمر ابن الخطاب رضى الله عنهما أن النبي قال : لا حسد إلا في اثنتين : رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به أناء الليل وأناء النهار ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه أناء الليل وأناء النهار رواه البخاري ومسلم. Dari Ibnu Umar semoga Allaah meridhoi keduanya bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak boleh berhasad kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang diberi Allaah kefahaman terhadap Al Qur’an dan ia mengamalkannya siang malam dan orang yang diberi oleh Allaah harta dan ia menginfaqkannya siang malam” HR Bukhary dan Muslim عن أبي أمامة الباهلي قال : سمعت رسول الله يقول : اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه (رواه مسلم. Dari Abu Umamah Al Bahiily, yang semoga Allaah meridhoinya, ia telah berkata: Aku mendengar Rasulullaah SAW bersabda: “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang pada hari Qiamat sebagai penolong bagi pembacanya”. HR Muslim عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله : من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف ميم حرف. رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح Dari Abdullaah bin Mas’ud RA ia berkata: Telah bersabda Rasulullaah SAW: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur’an), maka ia mendapatkan kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” HR At Turmudzi dan beliau berkata hadits ini hasan shohih. عن ابن عباس قال : قال رسول الله :إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح Dari sahabat Abdullah bin Abbas RA, ia berkata: Telah bersabda Rasulullaah RA: “Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur’an maka orang itu bagaikan rumah yang hancur.” HR At Turmudzi dan beliau berkata hadits ini hasan shohih وعن عمر ابن الخطاب أن النبي قال : إن الله تعالى يرفع بهذا الكلام أقواما ويضع به آخرين. رواه مسلم Dari Umar bin Al Khottoby bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allaah Ta’ala meninggikan atau merendahkan derajat suatu kaum dengan Al Qur’an” HR Imam Muslim. عن معاذ بن أنس أن رسول الله قال : من قرأ القرآن وعمل بما فيه ألبس الله والديه تاجا يوم القيامة ضوؤه أحسن من ضوء الشمس في بيوت الدنيا فما ظنكم بالذي عمل بـهذا ( رواه أبو داود Dari Mu’adz bin Anas semoga Allaah meridhoinya bahwasanya Rasulullaah bersabda: “Barang siapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya apa -apa yang ada di dalamnya Allaah akan memakaikan bapaknya sebuah mahkota pada hari Qiamat yang cahayanya lebih terang dari sinar matahari di dunia ini, terlebih lagi dengan yang melakukannya? HR Imam Abu Dawud عن أبي سعيد ألخدري رضي الله عنه عن النبي قال : فضل كلام الله سبحانه وتعالى على سائر الكلام كفضل الله سبحانه وتعالى على خلقه رواه الترمذي وقال: حديث حسن Dari Abu Sa’id Al Khudriy RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Keutamaan Kalamullaah (Al Qur’an) dibandingkan dengan selainnya ialah seperti keutamaan Allaah dibanding seluruh makhluqnya“ HR Imam At Turmudzy dan beliau berkata hadits ini hasan. (ST) Wallaahu A’lam, dinukil oleh salah seorang sahabat saya dari: kitab At Tibyan Fii Adaabi Hamalatil Qur’an lil Imam An Nawawi rohimahulloh. Diantara keutamaan-keutamaan lainnya yang disebutkan oleh asy Syeikh al Imam Abul Fadhl Abdurrahman bin Ahmad bin al Hasan ar Roziy al Muqri’ didalam kitabnya “Fadho’ilul Qur’an” adalah : 1. Keutamaan Al Qur’an dibandingkan perkataan-perkataan lainnya : Sabda Rasulullah saw,”Keutamaan firman Allah azza wa jalla dibandingkan seluruh perkataan bagaikan keutamaan Allah dengan selain-Nya (makhluk-Nya.” (HR. Ad Darimi) 2. Al Qur’an lebih dicintai Allah swt daripada langit dan bumi serta yang ada didalamnya. Sabda Rasulullah saw,”Al Qur’an lebih dicintai Allah daripada langit dan bumi serta yang ada didalamnya.” (HR. Ad Darimi) 3. Al Qur’an adalah cahaya ditengah kegelapan Sabda Rasulullah saw,”Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh.” (HR. Baihaqi) 4. Ahlul Qur’an adalah keluarga Allah swt Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) 5. Mereka adalah sebaik-baik umat. Sabda Rasulullah saw,”Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori, Abu Daud dan tirmidzi) 6. Mereka diberikan apa-apa yang diberikan kepada para nabi kecuali wahyu “Pada hari kiamat didatangkan para pembawa Al Qur’an lalu Allah azza jalla berkata,’kalianlah wadah perkaan-Ku (Al Qur’an) maka aku berikan kepada kalian apa-apa yang Aku berikan kepada para nabi kecuali wahyu.” …… (Fadhoilul Qur’an hal 9 – 11) BAB II ADAB MEMBACA AL-QURAN Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an : 1. Niat Yang Ikhlas Karena Allah Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW: “Sesungguhnya Allah SWT tidak memandang kepada bentuk tubuhmu dan tidak juga pada rupa wajahmu, tetapi IA memandang kepada keikhlasan hatimu.” (HR Muslim) Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata: “Aku membonceng Nabi SAW yang sedang mengendarai Keledai, maka beliau SAW berkata padaku: Wahai Mu’adz, tahukah Anda apa hak Allah terhadap hamba dan apa hak hamba terhadap Allah? Maka saya menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Maka kata Nabi SAW: Hak Allah terhadap hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun. Dan hak hamba terhadap ALLAH adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa hamba yang tidak menyekutukan kepada ALLAH sedikitpun.” (HR Muttafaq ‘alaih) 2. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59) Seseorang memberi salam kepada Nabi SAW ketika beliau SAW sedang berwudhu maka beliau SAW menunda menjawab salam tersebut sampai beliau SAW selesai berwudhu’ baru kemudian dijawab salamnya oleh beliau SAW, sambil bersabda: Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu tadi, melainkan karena aku tidak suka menyebut nama ALLAH, kecuali dalam keadaan suci.” (HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah) 3. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan) Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu. 4. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat. Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’. Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). 5. Membaguskan suara ketika membacanya. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya. “ Sungguh sebaik-baiknya suara manusia yang membaca al-Qur’an ialah yang jika engkau mendengar suara bacaannya maka engkau merasa bahwa ia seorang yang sangat takut kepada Allah.” (HR Abu Daud) 6. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’. Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). 7. Menggunakan Siwak Sebelum Qiro’ah “ Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim) 8. Memilih Tempat/Pakaian Yang Suci Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Bahwa mesjid ALLAH tidak layak dikenai kencing atau kotoran manusia, karena sesungguhnya ia adalah untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.” (HR Muslim) 9.Merendahkan Suara Saat Membaca Terutama Saat Berada Ditempat Yang Ramai “ Dan serulah Rabb-mu dengan merendahkan diri dan merasa takut, sesungguhnya IA tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raaf, 7:55) “ Dan sederhanakanlah berjalanmu dan rendahkanlah suaramu, karena sesungguhnya sejelek-jelek suara itu adalah suara keledai.” (QS Luqman, 31:19) 10. Merasakan Bahwa Allah Swt Sedang Mendengarkan Bacaannya Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sesuatupun yang lebih disenangi oleh ALLAH SWT melainkan mendengarkan bacaan seorang hamba-NYA yang merdu sedang membaca al-Qur’an dengan jelas.” (HR Bukhari dan Muslim) 11. Berusaha Memenuhi Kaidah Tajwidnya, Memahami Dan Mengamalkannya “ Beliau SAW membaca al-Qur’an dengan perlahan, setiap bertemu dengan ayat tasbih beliau SAW bertasbih, setiap bertemu dengan ayat perlindungan beliau SAW berta’awwudz dan setiap bertemu dengan ayat pertanyaan, maka beliau SAW menjawabnya.” (HR Muslim) Tafsir Ibnu Abbas ra atas QS Al-Furqaan (25:3) BAB III PENUTUP Demikian ringkasan singkat tentang keutamaan dan adab ( tata karma ) membaca Al-Qur’an, semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya, sehingga bisa memberi motifasi kepada kita untuk belajar ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an, membacanya serta mengamalkan isi dan kandungannya, dan mudah-mudahan kita semua mendapat syafa’at dari Al- Qur’an aamiin. Mari kita selalu meningkatkan ibadah kita khususnya dalam hal membaca dan mempelajari Al-Qur’an untuk bekal kita semua besok di akhirat. Akhirnya kami ucapkan selamat jalan kepada santriwati PP. Darun Najah yang sebentar lagi meninggalkan Pondok ini, semoga Allah SWT selalu menuntun serta meridloi kita semua dan mudah- mudahan mendapatkan ilmu yang barakah serta manfa’at dunia dan akhirat aamiin. Dari catatan ini tentu banyak kekurangan maupun kesalahan, maka dari itu kami mohon kritik maupun saran membangun untuk perbaikan, dari kami mohon maaf yang sebesar-besarnya .Thank’s Damaran, 26 April 2012 Akh Saiful Amri Addamroni