This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

MASJID AL-AQSHO KUDUS

KEBANGGAAN KOTA KUDUS.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 25 April 2012

Adab membaca alqur’an — Presentation Transcript

Adab membaca alqur’an — Presentation Transcript 1. ADAB MEMBACA AL-QUR’AN 2. 1. NIAT YANG IKHLAS KARENA ALLAH Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bersabda Nabi SAW: “Sesungguhnya ALLAH SWT tidak memandang kepada bentuk tubuhmu dan tidak juga pada rupa wajahmu, tetapi IA memandang kepada keikhlasan hatimu.” (HR Muslim) Dari Mu’adz bin Jabal ra berkata: “Aku membonceng Nabi SAW yang sedang mengendarai Keledai, maka beliau SAW berkata padaku: Wahai Mu’adz, tahukah Anda apa hak ALLAH terhadap hamba dan apa hak hamba terhadap ALLAH? Maka saya menjawab: ALLAH dan Rasul-NYA lebih mengetahui. Maka kata Nabi SAW: Hak ALLAH terhadap hamba adalah agar mereka beribadah kepada-NYA dan tidak menyekutukan-NYA sedikitpun. Dan hak hamba terhadap ALLAH adalah bahwa ALLAH tidak akan menyiksa hamba yang tidak menyekutukan kepada ALLAH sedikitpun.” (HR Muttafaq ‘alaih) 2. BERWUDHU SEBELUM QIRO’AH “ Seseorang memberi salam kepada Nabi SAW ketika beliau SAW sedang berwudhu maka beliau SAW menunda menjawab salam tersebut sampai beliau SAW selesai berwudhu’ baru kemudian dijawab salamnya oleh beliau SAW, sambil bersabda: Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu tadi, melainkan karena aku tidak suka menyebut nama ALLAH, kecuali dalam keadaan suci.” (HR Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibnu Majah) 3. 3. MENGGUNAKAN SIWAK SEBELUM QIRO’AH “ Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim) 4. MEMILIH TEMPAT/PAKAIAN YANG SUCI Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Bahwa mesjid ALLAH tidak layak dikenai kencing atau kotoran manusia, karena sesungguhnya ia adalah untuk berdzikir kepada ALLAH dan membaca Al-Qur’an.” (HR Muslim) 5. MEMBACA ISTI’ADZAH “ Maka apabila kamu membaca al-Qur’an maka mohonlah perlindungan dari Syaithon yang terkutuk.” (QS An-Nahl 16:98) 6. SUNNAH MEMBAGUSKAN SUARA “ Barangsiapa yang tidak menghiasi al-Qur’an dengan suaranya maka bukan termasuk golonganku.” (HR Abu Daud) “ Sungguh sebaik-baiknya suara manusia yang membaca al-Qur’an ialah yang jika engkau mendengar suara bacaannya maka engkau merasa bahwa ia seorang yang sangat takut kepada Allah.” (HR Abu Daud) 4. 7. MERENDAHKAN SUARA SAAT MEMBACA TERUTAMA SAAT BERADA DITEMPAT YANG RAMAI “ Dan serulah Rabb-mu dengan merendahkan diri dan merasa takut, sesungguhnya IA tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raaf, 7:55) “ Dan sederhanakanlah berjalanmu dan rendahkanlah suaramu, karena sesungguhnya sejelek-jelek suara itu adalah suara keledai.” (QS Luqman, 31:19) 8. MERASA TAKUT DAN KHUSYU’ Dan apabila dibacakan dihadapan mereka ayat-ayat ALLAH, maka mereka segera bersujud sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS Al-Israa’, 17:109) Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: Bersabda Nabi SAW padaku pada suatu hari sebagai berikut: Wahai Ibnu Mas’ud, bacakan al-Qur’an untukku. Maka aku bertanya: Apakah aku akan membacakannya untukmu padahal al-Qur’an itu diturunkan kepadamu? Jawab beliau SAW: Aku senang mendengarkannya dari orang lain. Maka kubacakan surat An-Nisaa’ dihadapan beliau SAW, sampai ketika aku sampai pada ayat: Maka bagaimanakah keadaanmu hai Muhammad, saat KAMI mendatangkan setiap ummat dengan seorang saksi nanti dan KAMI datangkan engkau sebagai saksi atas mereka semua? (QS An-Nisaa’ 4:41); Maka bersabdalah beliau SAW padaku: Cukup sampai disini hai Ibnu Mas’ud. Maka aku melirik pada wajah beliau SAW, maka kulihat wajahnya sudah penuh dengan linangan airmata. (HR Bukhari Muslim) 5. 9. MERASAKAN BAHWA ALLAH SWT SEDANG MENDENGARKAN BACAANNYA Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tiada sesuatupun yang lebih disenangi oleh ALLAH SWT melainkan mendengarkan bacaan seorang hamba-NYA yang merdu sedang membaca al-Qur’an dengan jelas.” (HR Bukhari dan Muslim) 10. BERUSAHA MEMENUHI KAIDAH TAJWIDNYA, MEMAHAMI DAN MENGAMALKANNYA “ Beliau SAW membaca al-Qur’an dengan perlahan, setiap bertemu dengan ayat tasbih beliau SAW bertasbih, setiap bertemu dengan ayat perlindungan beliau SAW berta’awwudz dan setiap bertemu dengan ayat pertanyaan, maka beliau SAW menjawabnya.” (HR Muslim) Tafsir Ibnu Abbas ra atas QS Al-Furqaan (25:3

bacaan ghorib/ghoroib dalam al-qur'an

bacaan ghorib/ghoroib dalam al-qur'an 10:47 SYAMSUL HUDA NO COMMENTS Berbicara tentang al-Qur’an memang bagaikan mengarungi samudera yang tak bertepi, semakin jauh ia diarungi semakin luas pula jangkauannya. Dari aspek manapun al-Qur’an dikaji dan diteliti, ia tidak akan pernah habis, bahkan semakin kaya dan selalu aktual. Ia bagaikan intan yang memiliki berbagai sudut, dan setiap sudut selalu memancarkan cahayanya yang terang. Bacaan Al-Quran itu wajib dibaca perlu benar sesuai dengan ketika diturunkan. dalam QS. Al Isra' : 105 Allah berfirman "Wa bil haqq anzalnaahu wa bil haqq nazala". QS. Al Qiyamah : 18 "Fa idzaa qoro'naahu wattabi' qur-aanah." Maka kita dituntut untuk mengikuti bacaan Qur'an sebagaimana Allah melalui malaikat Jibril membacakannya. didalam al-qur'an terdapat bebrapa bacaan-bacan yang nyleneh, nyleneh dalam arti adalah karena bacaan gharib yang terdapat di dalam Al-Quran cara membacanyanya berbeda dengan tulisan yang ada. bacaan-bacaan itulah yang dinamakan ghorib/ghoroib. bacaan ghorib terbagi menjadi: 1. Saktah, Saktah Secara bahasa saktah berasal dari kata سكت – يسكت – سكوتا yang berarti diam; tidak bergerak, atau bisa juga bermakna المنع (mencegah). Sedangkan menurut istilah; قطع الكلمة من غير تنفس بنية القراءة (memutus kata sambil menahan nafas dengan niat meneruskan bacaan).. Dengan kata lain, berhenti sejenak sekedar satu alif tanpa bernafas dengan niat meneruskan bacaan. a. Pada alif gantian dari tanwin yang terdapat pada lafazh عوجا dalam surat al Kahfi ayat 1-2, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2). ” Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,”. Adapun alasan diterapkan bacaan saktah disini ialah agar tidak terjadi kesalahan makna ayat, artinya hal ini agar tidak mengesankan bahwa lafazh قَيِّمًا adalah sifat/na’at bagi lafazhعوجا , sebab al ‘Iwaj (kebengkokan) itu bukanlah Qoyyiman (lurus). b. Pada alif yang terdapat pada kalimah مَرْقَدِنَا dalam surat Yasin ayat 52, قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ (٥٢) ” Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).” Apabila washol, berhenti sejenak pada lafazh مَرْقَدِنَا (marqodina) kira-kira satu alif tanpa bernafas, kemudian melanjutkan…. هَذَا. Alasan bacaan saktah pada ayat ini ialah menjelaskan bahwa kata هذا bukan sifat dari مرقد , melainkan ia menjadi mubtada’ dan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman pada makna dari ayat diatas. Pada ayat ini perkataan orang kafir selesai pada lafazh مَرْقَدِنَا, dan lafazh…. هَذَا adalah perkataan malaikat. Pada dua tempat ini seorang Qori’ diperbolehkan memilih, waqof pada kalimah yang pertama, maka tidak ada hukum saktah dan Ibtida’ dengan kalimah setelahnya atau membaca washol kalimah yang pertama dengan kalimah berikutnya, tidak waqof, maka diharuskan menerapkan bacaan saktah. c. Pada Nun-nya lafazh مَنْ dalam surat al Qiyamah ayat 27 “ وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ “. d. Pada Lam-nya lafazh بَلْ dalam surat al Muthoffifin ayat 14 ; كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤) Pada dua tempat ini harus diterapkan bacaan saktah, karena tidak diperbolehkan waqof pada dua tempat tersebut, artinya tidak boleh waqof pada lafazh مَنْ dan lafazh بَلْ kemudian Ibtida’ pada lafazh رَاقٍ dan lafazh رَانَ, jadi harus dibaca washol مَنْ رَاقٍ dan بَلْ رَانَ dengan menerapkan hukum saktah. Sedangkan alasan bacaan saktah pada dua ayat ini ialah, untuk menekankan fungsi من sebagai kata tanya dan fungsi بل sebagai kata penegas, selain itu juga untuk memperjelas izhhar-nya lam dan nun karena biasanya dua huruf tersebut bila bertemu ra’ di-idgham-kan sehingga bunyi keduanya hilang dan nantinya menjadi serupa dengan bentuk Mudho’af (مضاعف). Selain empat tempat di atas, sebetulnya ada dua lagi saktah umum yang diikuti oleh Imam Ashim, yaitu pertemuan antara surat Antara surat al Anfal dan surat at Tawbah pada Mim-nya lafazh عَلِيمٌ, pertemuan dua ha’ pada kalimat (dalam surat al-Haqqah, 28-29): مَآ أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَّلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ . Hanya saja, saktah pada Mim-nya lafazh عَلِيمٌ ini sebenarnya satu diantara tiga alternatif bacaan yang disepakati oleh semua imam qiraat, yaitu washal, saktah dan waqaf dan pada surat al-Haqqah sebenarnya satu diantara dua alternatif bacaan, yaitu Idghom dan saktah Ringkasnya yaitu : • Surat al Kahfi ayat 1: ولم يجعل له عوج-قيما • Surat Yasin ayat 52 : من مرقدنا - هذا ما وعدنا الرحمن • Surat al Qiyamah ayat 27 : وقيل من - راق • Surat al Muthaffifiin ayat 14 : كلا بل – ران 2. Imalah, Imalah Secara bahasa berasal dari kata أمال – يميل – إمالة الرمح yang berarti memiringkan atau membengkokkan (tombak), sedangkan secara istilah imalah berarti memiringkan fathah ke arah kasrah atau memiringkan alif ke arah ya’. Bacaan imalah ini bermanfaat untuk memudahkan pengucapan huruf, karena lidah itu akan terangkat bila membaca fathah dan turun bila membaca imalah dan tentunya turunnya lidah itu lebih ringan dari terangkatnya lidah. Juga dengan bacaan imalah huruf ya’ yang merupakan asal dari alif layyinah tersebut akan tetap tampak ketika dibaca. Untuk imam Hafs, bacaan imalah dalam al Qur’an Cuma ada di surat Hud ayat 41. مجراها yang seharusnya dibaca majraaha, menjadi majreeha. 3. Naql, Naql (Memindah/menggeser harakat) Secara bahasa naql berasal dari kata نقل – ينقل – نقلا berarti memindah; memindah/menggeser. Adapun secara istilah naql berarti memindahkan harakat hamzah ke huruf mati sebelumnya, dan setelah itu hamzahnya dibuang. Menurut imam Hafs, bacaan ini juga hanya ada dalam surat al Hujurat ayat 11 بئس الاسم. Alasan bacaan naql pada kata الاسم yaitu terdapatnya dua hamzah washal (hamzah yang tidak terbaca di tengah kalimat), yakni hamzah pada al ta’rif dan ismu (salah satu dari sepuluh kata benda yang berhamzah washal), yang mengapit lam sehingga menjadi tidak terbaca di kala sambung dengan kata sebelumnya. Di antara manfaat bacaan naql ini adalah untuk memudahkan umat Islam membacanya. Bingung yah? Gak apa-apa ya. Namanya juga nuntut ilmu. Pelan-pelan aja. 4. Isymam, Yaitu membaca harakat kata yang diwaqaf tanpa ada suara dengan mengangkat dua bibir setelah mensukunkan huruf yang dirafa’, seperti نستعينُ . dalam bacaan Hafsh, isymam hanya ada kata لا تأمنا (QS. Yusuf:11), yakni lidah melafazhkan لا تأمنُنَا tanpa ada perubahan suara alias tetap sama dengan tulisannya. Kalau diamati, ternyata rasm al-Qur’an hanya menulis satu nun yang ditasydid. Pertanyaan yang muncul, mana dlammahnya? sehingga untuk mempertemukan keduanya dipilih jalan tengah yaitu bunyi bacaan mengikuti rasm, sedang gerakan bibir mengikuti kata asal. Secara bahasa, hal itu bisa difahami bahwa memang asal dari kata itu terdapat dua nun yang diizhharkan, nun pertama dirafa’kan dan kedua dinashabkan. Nun pertama dirafa’kan (didlammahkan) karena ia termasuk fi’il mudhari yang tidak kemasukan ‘amil nawashib maupun jawazim. Kata “la” yang masuk pada kata “ta’manu” adalah nafy (yang berarti “tidak”) bukan nahy (yang berarti “jangan”). Hal itu diambil dari pemahaman konteks ayat: قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ (١١) “ Mereka berkata: “Wahai ayah Kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai Kami terhadap Yusuf, Padahal Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. 5. Tashil, yaitu meringankan hamzah kedua (dari dua hamzah yang beriringan) dengan bunyi leburan hamzah dengan alif. Terdapat dalam surat Fushilat 44 أأعجمي وعربي. Kalo diliat dari tulisannya, bacaannya kan seharusnya a a’jamiyyu wa ‘arabiyy. Tapi untuk bacaan ini, hamzah pertama dan kedua cara bacanya agak diringankan. Ketika bertemu dua hamzah qatha’ yang berurutan pada satu kata maka melafadzkan kata semacam ini bagi orang Arab terasa berat, sehingga bacaan seperti ini bisa meringankan. Arti tashil secara bahasa memberi kemudahan atau keringanan, sedangkan dalam istilah qiraat, tashil diartikan pengucapan hamzah , dengan bunyi antara hamzah dan huruf yang sejenis dengan harakat hamzah, seperti أأنذرتهم، أأنتم dan lain-lain. Hanya saja dalam riwayat Hafsh bacaan tashil hanya satu yaitu أأعجمي وعربي (QS. al-Fusshilat:44). Ketika bertemu dua hamzah qatha’ yang berurutan pada satu kata maka melafazhkan kata semacam ini bagi orang Arab terasa berat, sehingga bacaan seperti ini bisa meringankan. Juga ada bacaan tashil lagi, sebagaimana yang dikemukakan Imam Nasr Makky ada enam tempat, yaitu 1. Surat al-An’am ayat 143 : آالذكرين. 2. Surat al-An’am ayat 144 : آالذكرين . 3. Surat Yunus 51 : آلآن . 4. Surat Yunus 91 : آلآن. 5. Surat Yunus 59 : آلله. 6. Surat al-Naml 59 :آلله.

Adab Membaca Al-Quran

Adab Membaca Al-Quran Kategori: Al-Quran 82 Komentar // 24 Mei 2008 Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam,“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an: 1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59) 2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan) Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu. 3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan. Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat. 4. Membaguskan suara ketika membacanya. Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya. 5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98) Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’. Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.

Selasa, 24 April 2012

Keutamaan Membaca Al Quran

Keutamaan Membaca Al Quran 2 Votes إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ . سورة فاطر أية 29-30 Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Surat Fathir ayat 29 –30 ) Sabda Rasulullaah SAW : عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خير كم من تعلم القرآن وعلمه رواه البخاري. Dari Utsman bin Affan (yang semoga Allaah meridhoinya) berkata: Telah bersabda Rasulullaah SAW: “Sebaik-baik (manusia di antara) kalian adalah ia yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya “ HR Bukhary عن عائشة رضى الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الذي يقرأ القرآن وهو ماهر به مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن وهو يتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران (رواه البخاري ومسلم Dari Ummul Mukminin Aisyah semoga Allaah meridhoinya, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullaah SAW: “Orang yang membaca Al Qur’an dengan mahir ia bersama malaikat yang mulia sedang orang yang membaca Al Qur’an dengan terbata-bata karena berat atau susah, maka ia mendapat dua pahala.” Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim. عن أبي موسى الأشعري رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن مثل التمرة لا ريح لها وطعمها طيب حلو ، ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر ، ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة ليس لها ريح وطعمها مر رواه البخاري ومسل Dari Abu Musa Al Asy’ari semoga Allaah meridhoinya berkata : telah bersabda Rasulullaah SAW: “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al Qur’an seperti Ar Rojah baunya harum rasanya lezat, dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an seperti Tamroh tidak ada baunya tetapi rasanya manis. Sedang perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an separti Rihanah, baunya harum tetapi rasanya pahit, sedang orang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an seperti Handholah, tidak ada baunya dan pahit rasanya” HR Bukhary dan Muslim عن ابن عمر ابن الخطاب رضى الله عنهما أن النبي قال : لا حسد إلا في اثنتين : رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به أناء الليل وأناء النهار ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه أناء الليل وأناء النهار رواه البخاري ومسلم. Dari Ibnu Umar semoga Allaah meridhoi keduanya bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak boleh berhasad kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang diberi Allaah kefahaman terhadap Al Qur’an dan ia mengamalkannya siang malam dan orang yang diberi oleh Allaah harta dan ia menginfaqkannya siang malam” HR Bukhary dan Muslim عن أبي أمامة الباهلي قال : سمعت رسول الله يقول : اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه (رواه مسلم. Dari Abu Umamah Al Bahiily, yang semoga Allaah meridhoinya, ia telah berkata: Aku mendengar Rasulullaah SAW bersabda: “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang pada hari Qiamat sebagai penolong bagi pembacanya”. HR Muslim عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله : من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف ميم حرف. رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح Dari Abdullaah bin Mas’ud RA ia berkata: Telah bersabda Rasulullaah SAW: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur’an), maka ia mendapatkan kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” HR At Turmudzi dan beliau berkata hadits ini hasan shohih. عن ابن عباس قال : قال رسول الله :إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح Dari sahabat Abdullah bin Abbas RA, ia berkata: Telah bersabda Rasulullaah RA: “Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur’an maka orang itu bagaikan rumah yang hancur.” HR At Turmudzi dan beliau berkata hadits ini hasan shohih وعن عمر ابن الخطاب أن النبي قال : إن الله تعالى يرفع بهذا الكلام أقواما ويضع به آخرين. رواه مسلم Dari Umar bin Al Khottoby bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allaah Ta’ala meninggikan atau merendahkan derajat suatu kaum dengan Al Qur’an” HR Imam Muslim. عن معاذ بن أنس أن رسول الله قال : من قرأ القرآن وعمل بما فيه ألبس الله والديه تاجا يوم القيامة ضوؤه أحسن من ضوء الشمس في بيوت الدنيا فما ظنكم بالذي عمل بـهذا ( رواه أبو داود Dari Mu’adz bin Anas semoga Allaah meridhoinya bahwasanya Rasulullaah bersabda: “Barang siapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya apa -apa yang ada di dalamnya Allaah akan memakaikan bapaknya sebuah mahkota pada hari Qiamat yang cahayanya lebih terang dari sinar matahari di dunia ini, terlebih lagi dengan yang melakukannya? HR Imam Abu Dawud عن أبي سعيد ألخدري رضي الله عنه عن النبي قال : فضل كلام الله سبحانه وتعالى على سائر الكلام كفضل الله سبحانه وتعالى على خلقه رواه الترمذي وقال: حديث حسن Dari Abu Sa’id Al Khudriy RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Keutamaan Kalamullaah (Al Qur’an) dibandingkan dengan selainnya ialah seperti keutamaan Allaah dibanding seluruh makhluqnya“ HR Imam At Turmudzy dan beliau berkata hadits ini hasan. (ST) Wallaahu A’lam, dinukil oleh salah seorang sahabat saya dari: kitab At Tibyan Fii Adaabi Hamalatil Qur’an lil Imam An Nawawi rohimahulloh.

kisah

Kini2u.Com Isu semasa, terkini, politik, sosial… * Home * Hubungi * Senarai Nama Islam Anak Kini2u.Com Rss Kisah hakim yang bertimbangrasa 0 Posted by admin | Posted on 25-03-2012 Category : Mahkamah Tags: Kisah dan tauladan Sangat mengharukan, seorang hakim bernama Marzuki di Mahkamah Indonesia berasa sebak dengan penerangan pesalah seorang nenek tua yang mengaku salah mencuri ubi kayu. Di ruang mahkamah pengadilan, seorang hakim duduk termenung menyemak pertuduhan kepada seorang nenek yang dituduh mencuri ubi kayu. Nenek itu merayu bahawa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun pengurus ladang tuan punya ladang ubi tersebut tetap dengan tuntutannya supaya menjadi iktibar kepada orang lain. Hakim menghela nafas dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu. ”Saya tidak dapat membuat pengecualian undang-undang, undang-undang tetap undang-undang, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta (lebih kurang RM350) dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2.5 tahun, seperti tuntutan undang-undang”. Continue Reading Kisah Luqman Al-Hakim, Keldai dan si anak 7 Posted by admin | Posted on 03-12-2010 Category : Agama Tags: Kisah dan tauladan, Luqman Al-Hakim Kisah yang saya suka untuk berkongsi kali ini adalah kisah Luqman al Hakim, anaknya dan keldai. Ia adalah kisah yang sangat mengesankan saya dalam bertindak dan menghadapi pandangan manusia. Dalam mendidik anaknya untuk berhadapan dengan pandangan manusia, Luqman al Hakim telah membawa anaknya dan keldai ke pasar tempat orang ramai. Mulanya, Luqman al Hakim telah menaiki keldai itu, anaknya pula yang mengendalikan keldai itu sambil berjalan kaki, maka orang ramai berkata : ” Inilah orang tua yang tidak mengasihani anaknya, dia bersenang lenang di atas keldai, anaknya pula berjalan kaki! ” Berikutnya, Luqman al Hakim menaikkan anaknya ke atas keldai dan beliau sendiri pula yang mengendalikan Keldai dengan berjalan kaki, maka orang ramai berkata : ” Sungguh biadap anak itu, orang tua dibiarkan berjalan kaki, dia pula bersenang lenang di atas keldai! ” Seterusnya, Luqman al Hakim bersama anaknya menaiki keldai itu bersama sama, maka berkata pula orang ramai : ” Lihat!, seekor keldai membawa dua orang!, alangkah siksanya keldai itu membawa beban berganda! ” Akhirnya, Luqman al Hakim dan anaknya tidak menaiki keldai itu dan membiarkan ia kosong saja, orang ramai berkata lagi : ” Alangkah anehnya, keldai dibiarkan kosong tidak ditunggangi, tuannya pula berjalan kaki saja!” Apa kalian dapat dari kisah ini?, saya dapat sangat banyak, dan saya mohon berkongsi sendikit. ” Ridhannas ghoyatun la tudrak! “, itu kata pepatah arab yang mampu menerangkan kisah ini, maksudnya ” Kepuasan atau persetujuan dari SEMUA pihak yaitu manusia adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai “. Inilah yang kita katakan pandangan manusia, pandangan yang selalunya silap, jika dibandingkan dengan pandangan Allah. Sangat benar, pandangan manusia itu sering berbeza beza, setiap apa yg dilakukan pasti ada saja yang kurang bersetuju, mungkin majoriti, mungkin juga minoriti, tapi hakikatnya pasti ada perbezaan. Melihatkan kisah ini, saya tidak mengatakan yang orang ramai yang memberi komen2 itu jahil atau silap, ada benarnya setiap komen itu bukan?, ya, memang ada benarnya, saya akui itu, tetapi setiap komen itu datangnya dari pandangan manusia yang pastinya banyak kekurangan, Continue Reading Kerana Mempersendakan Al-Quran 0 Posted by admin | Posted on 14-08-2010 Category : Macam-macam hal Tags: Kisah dan tauladan “PAGI itu sekolah kecoh. Nadia dan Aiman ditangkap basah! Cerita ini disampaikan terus oleh Fazli yang turut berada di tempat kejadian. Malah dia sempat merakamkan perbuatan sumbang rakannya itu. Menurut Fazli, mereka ditangkap oleh penduduk kampung di dalam semak tanpa seurat benang pun. Sebenarnya, kami memang sudah maklum dengan perangai Nadia yang berlagak alim depan ibu bapanya dan guru-guru di sekolah. Malah, sikap Nadia yang gemar menabur fitnah dan mengadu-domba itu menyebabkan rakan-rakan sekelas menjauhkan diri daripadanya. Salah seorang mangsa fitnahnya ialah rakan baikku sendiri iaitu Ainun. Disebab fitnah itu jugalah Ainun pernah diugut akan dicederakan oleh Aiman. Oleh kerana tidak tahan difitnah dan diugut, akhirnya Ainun mengadu kepada cikgu kaunseling tentang perilaku Nadia yang sering ponteng sekolah untuk berasmara dengan kekasihnya. Dakwaan Ainun itu diperkukuhkan dengan sms yang dihantar sendiri oleh Nadia. Melalui sms itu Nadia memaklumkan dia tidak ke sekolah kerana keluar bersama Sham ke Bandar. Sham merupakan teman lelaki Nadia yang kedua. Cikgu kaunseling menelefon bapa Nadia bagi memaklumkan perkara tersebut. Bapa Nadia berjanji akan menyiasat perkara berkenaan. Beberapa hari kemudian, ibu bapa Nadia datang ke sekolah untuk berjumpa cikgu kaunseling. Ibu bapa Nadia mendakwa Ainun sengaja memfitnah anak mereka. Bagi membuktikan anak mereka tidak bersalah, ibu bapa Nadia menyuruh Nadia bersumpah dengan menjunjung Al-Quran dan Nadia melakukannya. Kemudian, cikgu kaunseling memanggil Ainun dan menyuruh dia melakukan perkara yang sama seperti Nadia lakukan sekiranya dia bercakap benar. Namun demikian, Ainun enggan menjunjung Al-Quran. Ainun tidak mahu mempermainkan kitab suci itu. Continue Reading Kisah Ashabul kahfi (7 sahabat/penghuni gua) 0 Posted by admin | Posted on 08-04-2010 Category : Agama Tags: Kisah dan tauladan Kahf Ahlil Kahf merupakan lokasi sejarah yang membuktikan kebenaran kisah di dalam Al-Quran iaitu di dalam Surah Kahfi mulai ayat 9 hingga 26. Ayat di dalam Surah tersebut menceritakan bagaimana 7 orang pemuda yang beriman kepada Allah melarikan diri ke sebuah gua dan Allah menidurkan mereka selama 309 tahun Qamariah (300 tahun Shamsiah) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa sekalipun. Kisah 7 pemuda ini bermula apabila mereka berhadapan dengan raja yang zalim dan mengakui bahawa mereka hanya beriman kepada Allah yang menguasai langit dan bumi. 7 orang pemuda tersebut melarikan diri dari raja yang zalim bersama seekor anjing mereka ke sebuah gua dan bersembunyi di situ lalu mereka ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun Qamariah. Apabila mereka bangun, salah seorang dari mereka keluar untuk membeli makanan dan mendapati zaman tersebut telah berubah dari zaman mereka memasuki gua. Ini disedari apabila wang yang mereka gunakan sudah tidak laku pada zaman tersebut (zaman mereka dibangkitkan). Continue Reading Riwayat Bidadari-bidadari Syurga 0 Posted by admin | Posted on 03-04-2010 Category : Agama Tags: Kisah dan tauladan Siti Hajar Ketika anak meraungkan tangisan, hati ibu tidak keruan Berlarilah Hajar dari Safa ke Marwah Mencari petunjuk bantuan Allah Hentakan kaki menerbitkan air Penghilang dahaga dan kering bibir Hajar..hikayatmu merentasi kurun Menjadi ingatan turun temurun Maryam Akan tumbuhkah benih tanpa air yang menyiram? Akan mekarkah bunga tanpa cahaya suria? Maryam..engkau menjadi pilihan Allah Membuktikan kudratNya yang Maha Kuasa Aminah Binti Wahab Semulia-mulia rahim yang mengandungkan bayinya Semulia-mulia wanita yang mengandungkan rahmat Tidak akan terulang lagi di dalam hikayat Kisah laksana Aminah Binti Wahab Ibu pembawa berkat Continue Reading IBRAHIM ADHAM : Kisah Hebat Seorang Raja Menjadi Ahli Sufi Mulia 2 Posted by admin | Posted on 27-02-2010 Category : Agama Tags: ibrahim adham, Kisah dan tauladan, tokoh ilmuan islam Ibrahim bin Adham atau nama asalnya ialah Abu Ishak Ibrahim bin Adham dilahirkan daripada keluarga bangsawan Arab yang kaya raya. Beliau terkenal sebagai seorang raja Balkh yang sangat luas wilayah kekuasaannya. Ke mana saja pergi, beliau akan diiringi empat puluh bilah pedang emas dan empat batang tongkat kebesaran emas diusung di depan dan belakangnya. Nama beliau berada dalam tinta sejarah daripada seorang raja yang masyhur kepada ahli sufi yang terkenal. Bermulanya perubahan kehidupan Ibrahim bin Adham apabila pada suatu malam ketika baginda tertidur di bilik istananya, langit-langit di biliknya bergerak seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan berseru: “Siapakah itu?” “Saya adalah seorang sahabat, untaku hilang, aku sedang mencarinya di atas atap ini.” Terdengar sahutan dari atas. “Bodoh, tidak ada orang mencari unta di atas atap!” Ibrahim menengkingnya. Continue Reading Kisah Ibrahim Adham dan Pemunggah Harta Rakyat 0 Posted by admin | Posted on 21-02-2010 Category : Agama Tags: ibrahim adham, Kisah dan tauladan, tokoh ilmuan islam Ibrahim Adham ni seorang Raja yang alim. Sanggup merendahkan martabatnya seolah-olah rakyat biasa dalam mencari keredhaan Allah. Suatu hari dalam perjalanannya, Ibrahim Adham sampai ke suatu anak sungai dalam keadaan yang sangat lapar.Tiba-tiba dilihatnya sebiji buah delima yang sedang hanyut. Dalam keadaan tersangat lapar,lalu dicapai dan dimakannya buah delima itu. Selepas selesai menikmatinya, barulah beliau terfikir, “buah delima itu tentu ada pemiliknya dan aku telah memakannya tanpa kebenaran pemilik tersebut”.Bimbang kerana telah memakan sesuatu yang haram dan tanpa izin, Ibrahim menyusur sungai itu mencari pemilik pohon delima tersebut. Continue Reading Kisah ibrahim adham dan pembuat dosa 4 Posted by admin | Posted on 14-02-2010 Category : Agama Tags: ibrahim adham, Kisah dan tauladan, tokoh ilmuan islam Abu Ishak Ibrahim bin Adham, lahir di Balkh dari keluarga bangsawan Arab di dalam sejarah sufi disebutkan sebagai seorang raja yang meninggalkan kerajaannya – lalu mengembara ke arah Barat untuk menjalani hidup bersendirian yang sempurna sambil mencari nafkah melalui kerja kasar yang halal hingga ia meninggal dunia di negeria Persia kira-kira tahun 165H/782M. Beberapa sumber mengatakan bahawa Ibrahim terbunuh ketika mengikuti angkatan laut yang menyerang Bizantium. Banyak rupanya kisah sejarah dari manusia bernama Ibrahim bin Adam ra, Hidup dizaman Nabi Khidir as. Continue Reading Kisah Masjid Yang Dibina Oleh Orang Miskin 0 Posted by admin | Posted on 01-01-2010 Category : Agama Tags: Kisah dan tauladan By Izo masjid-1Mungkin kita tidak akan percaya jika tidak melihat faktanya. Seorang yang tidak kaya, bahkan tergolong dalam golongan fakir miskin, namun mampu membangun sebuah Masjid di Turki. Nama masjidnya pun paling aneh di dunia, iaitu “Shanke Yadem” (Anggap Saja Sudah Makan). Sangat aneh bukan? Di sebalik Masjid yang namanya paling aneh tersebut berselindung kisah yang sangat menarik dan mengandungi pelajaran yang sangat berharga buat kita. Ceritanya begini : Di sebuah kawasan Al-Fateh, di pinggiran kota Istanbul ada seorang yang warak’ dan sangat sederhana, namanya Khairuddin Afandi. Setiap kali ke pasar dia tidak membeli apa-apa. Ketika merasa lapar dan ingin makan atau membeli sesuatu, seperti buah, daging atau manisan, ia berkata pada dirinya: “Anggap saja sudah makan”; dalam bahasa Turkinya “ Shanke Yadem”. Jama’ah yang melimpah, tanda keberkatan dan amal soleh dari harta yang halal dan bersih. Apa yang dia lakukan selepas itu? Wang yang sepatutnya digunakan untuk membeli keperluan makanannya itu dimasukkan ke dalan sebuah tabung. Begitulah yang dia lakukan pada setiap bulan dan sepanjang tahun. Dia mampu menahan dirinya untuk tidak makan dan berbelanja sesuka hati kecuali cukup untuk membeli sedikit makanan bagi meneruskan kehidupannya. Continue Reading Kisah si Miskin & si Kaya 0 Posted by admin | Posted on 05-12-2009 Category : Agama Tags: Kisah dan tauladan Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Orang itu sangat miskin sehingga pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, ”Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah S.W.T menjadikan aku orang yang kaya. Continue Reading * Tips Percuma Masukkan nama & email Bagi penghantaran tips perniagaan percuma Name: Email: * * [ IKLAN DISINI?? ] * * . * Kini2u.Com © All Rights Reserved. Kini2u.Com Member Login | Designed by : WebDesignLessons.com [ Online : 988 hari. ]

Kisah Mengharukan Islamnya Aminah Assilmi

Kisah Mengharukan Islamnya Aminah Assilmi 24 Nov Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat. Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist – aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran. Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan. Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya. Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu. Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana di balik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya. ”Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.” Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi. Ia pun melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat. Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.” Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah. Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat. Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya. Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya. Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak. ”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya. Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya. ”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.” Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya. Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai menghargai pilihan hidupnya. Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia. ”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!” Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah. Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya. Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. ”Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya lagi. Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,” pesan ibunya. Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam. Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi Muslim. Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu. Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan. Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah. Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS. Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas. ”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah.” Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam. sumber: http://muhammad-abid.blogspot.com/2010/07/kisah-mualaf-aminah-assilmi-dia.html